Minggu, 06 November 2011

belajar ikhlas

jajanan pasar keabisan, muter-muter cari penggantinya sampe mau ditabrak mobil, nahan laper gara-gara abis puasa gk langsung makan cuma minum doang, sampe kue tart kecil yang niatnya mw dikasih 3 jadi 2 gara-gara rusak, tapi yang aku lihat tanggapan kamu hanya seperti itu. hanya sekilas tanpa ada obrolan lainnya.

dan temanku seperti melihat pemandangan baru. "baru kali ini ketemu orang kayak gitu, ajaib dan aneh", ujarnya. aku hanya bisa melengos. sudah biasa menghadapi dia yang seperti itu. dia yang bersikap sangat biasa tanpa respon dan aku tak mampu berkutik. hanya diam membisu menyembunyikan rasa kecewa itu dalam-dalam.

siapa yang tak kecewa dengan respon yang seperti itu??
walau aku tahu niat awalku berubah drastis karena takdir berkata lain. 8 klepon, 8 serabi dan 8 onde-onde kesukaannya yang sudah siap aku bayar dengan uang simpananku lenyap begitu saja. 

aku mencoba ikhlas walau aku masih memaksa untuk mendapatkan pengganti yang sama. hingga akhirnya aku putuskan untuk mengganti kue tart kecil berjumlah 3 sesuai dengan ketiga macam kue yang sudah kurencanakan. tak berhenti sampai di situ saja, satu kue rusak dalam perjalanan. dan aku kembali harus mengikhlaskan untuk memberikannya hanya 2 kue. dan apa yang aku dapat? hanya adegan memberikan kue. hanya ituu !!!!! tanpa obrolan lima menit bahkan 2 menit pun rasanya tak ada. usahaku hanya dibalas itu...

dan aku kembali harus belajar ikhlas. ikhlas menerima respon dia.

Sabtu, 05 November 2011

kado kecil

                                             Kado Kecil untuk Dika
“Bu jangan lupa ya, kado ulang tahunku tahun ini. Tapi aku gak mau kadonya balon lagi.” Ucap seorang anak kecil di pagi buta kepada Ibunya.
Ibu tua itu hanya mengangguk lemah meski ia tak yakin bisa mengabulkannya. Pasalnya, penghasilan yang ia dapat sebagai penjual balon di Kebun Raya Bogor tidak semudah dulu. Ibu tua itu berjalan melewati pekatnya pagi tak berteman mentari dan menyusuri tiap sudut kota Bogor demi sebuah kado kecil untuk anak sulungnya.
“Kalau saja Bapak masih ada, mungkin tidak sesulit ini membelikan kado untuk Dika.” Rintih Ibu tua itu sambil sesekali menyeka sudut matanya mengenang almarhum suaminya. Ibu tua itu mengayunkan langkahnya dengan mantap tanpa memedulikan jarak yang harus ia tempuh untuk sampai ke Kebun Raya Bogor. Tekadnya bulat. Ia harus memberikan kado untuk Dika di tahun ini selain balon – balon yang dijualnya. Semburat merah jingga matahari yang mulai menyapanya pagi ini menambah semangat baru baginya. Hari ini ia membawa lebih banyak balon dari pada hari biasanya. Ia berharap balon – balon itu dapat habis terjual. Sehingga uangnya kelak akan cukup untuk membelikan Dika kado. Sebuah buku cerita. Ya, satu – satunya kado yang sampai saat ini sangat diidamkan Dika. Di usianya yang masih dalam proses belajar membaca, kado buku cerita pastinya akan menjadi kado terindah buat Dika. Sebuah senyum tipis terkembang di wajah Ibu tua itu membayangkan reaksi anaknya kelak.
Cuaca masih terasa sejuk sesampainya beliau di depan Kebun Raya Bogor. Peluh yang bercucuran di sekitar wajahnya hilang dibawa angin pagi yang masih menyisakan tetesan hujan tadi malam. Sambil menunggu jam buka, beliau memompa setiap balon – balon yang akan dijualnya kelak. Setiap angin yang memenuhi seluk balon tersimpan harapan yang besar dalam lubuk hatinya. “Semoga Sang Khalik memenuhi keinginanku mengabulkan permintaan Dika.”
Semua balon telah terpompa sempurna, tinggal bersiap menawarkan kepada seluruh pengujung. Jam buka tinggal setengah jam lagi. Menunggu waktu jam buka, Ibu tua itu istirahat sebentar sambil menikmati kemacetan yang mulai terjadi. Terlalu banyak siluet kehidupan yang terpampang di hadapannya. Salah satunya adalah seorang kakek tua yang sudah lemah berada di pinggir jalan terlelap tidur seperti tidak mengenal tempat. Kemiskinan selalu membuat keperihan di dalam hatinya. Banyak hal yang selalu menyekat kerongkongannya akan sebuah pertanyaan, dimana hati nurani para petinggi akan kemiskinan yang semakin merebak di negeri ini. Semenjak kematian suaminya karena terserang penyakit jantung beberapa hari setelah di PHK, ia banyak mengerti arti hidup yang sesungguhnya. Ia harus mampu menjadi dua figur sekaligus di mata anaknya. Lagi – lagi sudut matanya basah.
Pengunjung satu persatu berdatangan mengunjungi salah satu tempat wisata di Bogor ini.  Ada pasangan muda – mudi, rombongan keluarga kecil hingga besar sampai rombongan dari sekolah yang sedang berlibur. Ia dengan sigap memanfaatkan momen ini untuk menawarkan balon jualannya. Masing – masing pengunjung memiliki gaya yang berbeda – beda dalam menolak tawaran Ibu tua itu. Ada yang menolak dengan perkataan halus, menggeleng pelan bahkan hingga pengunjung yang berpura – pura acuh tidak mendengar teriakan penawaran harga balon dari Ibu tua itu. Semua itu tidak langsung membuat semangat yang dimilikinya tadi pagi luntur seketika, malah semakin membuatnya bersemangat. Akan ada pembeli yang membeli semua barang jualannya, ucapnya dalam hati.
Matahari telah meninggi namun belum satu pun balon yang terjual. Ia berjalan dari sudut ke sudut mencari kesempatan sedikit saja. Menghampiri kerumunan orang – orang yang memenuhi taman di dekat café. Di dekat kolam, sekumpulan anak TK sedang berlari mengejar gurunya riang. Ia melangkah mendekati anak – anak itu. Anak – anak selalu menyukai balon, pikirnya. Tanpa membuang waktu banyak ia langsung mengambil kesempatan tersebut dan mencoba menarik perhatian. Anak – anak itu masih terfokus pada permainan gurunya, Ibu tua itu tetap setia menunggu saat mereka menoleh dan membeli walau hanya satu balon saja. Menarik perhatian anak – anak tidak semudah yang dibayangkan. Kini cara terakhir menarik perhatian mereka adalah dengan cara melepas beberapa balon ke arah mereka. Dan Hup… seorang anak menoleh lugu dan mulai memainkan balonnya. Sang guru berusaha menarik perhatian anak itu kembali namun anak itu menangis meminta untuk dibelikan balon.  Ibu tua itu tersenyum simpul. Cara ini ternyata cukup berhasil. Beberapa anak lainnya turut meminta hal yang sama. Sang guru kewalahan membujuk permintaan anak muridnya dan akhirnya para ibu yang menemani anaknya mau tidak mau membelikan balon. Empat balon terjual sudah..
Suara adzan dzuhur menghentikan perburuannya. Ia berjalan ke arah mushola yang disediakan dan mulai membasuh air wudhu ke sekujur tubuhnya. Air yang mengalir, menyegarkannya kembali. Ayat – ayat suci mengalir lembut dalam tenangnya pengaduannya pada Sang Khalik. Tidak lupa ia panjatkan ribuan doa untuk kehidupannya dan anaknya kelak di masa depan. Doa penutup yang ia panjatkan adalah semoga Sang Khalik memudahkannya dalam mencari nafkah hari ini demi satu hal yang penting untuk anaknya. Sebuah kado kecil untuk Dika. Cukup sebuah agar anaknya bahagia. Perlahan wajahnya basah disertai sesenggukan yang tidak mampu lagi ia tahan.
            Ibu tua itu kembali berjalan menyusuri Kebun Raya Bogor. Ia kembali menawarkan barang jualannya kepada pengunjung yang baru datang menyesaki tempat ini. Tidak peduli pada teriknya matahari yang berada tepat di atas kepalanya, tidak peduli pada tatapan tidak suka dari beberapa pengunjung yang memandang dirinya rendah karena berjualan balon keliling. Hanya satu yang ia peduli, wajah memelas anaknya tadi pagi yang telah menusuk hatinya seharian ini. Anaknya tidak pernah menuntut apapun darinya selama ini. Dika cukup mengerti keadaan yang menimpa ibunya setelah ditinggal mati oleh almarhum ayahnya tiga tahun lalu. Keadaan yang sangat sulit.
            Dengan semangat, ia kembali meneriakan barang jualannya. “Balon..balon..siapa yang mau beli balon.. tiga ribu saja. Balon Mbak, Mas, Neng, buat anaknya Bu, Pak.. ayo beli balon. Adik mau beli balon?” teriaknya semangat. Tak sia – sia teriakannya yang lantang kali ini. Beberapa pengunjung tertarik membeli balon. Memang benar, do’a yang dipanjatkan dalam kekhusyukan selalu membawa berkah yang tak terkira. Saking sibuknya melayani permintaan pembeli, Ibu tua itu hingga tidak sempat mengelap peluh yang membasahi sekujur tubuhnya. Alhamdulillah, gumamnya pelan.
Waktu sudah menjelang petang. Sebentar lagi jam buka akan segera habis. Ibu tua itu merapikan barang jualannya yang sedikit berantakan. Ia melangkah menuju pintu keluar Kebun Raya Bogor. Tenggorokannya terasa kering sejak tadi siang. Dan air minum yang telah ia persiapkan dari rumah untuk mengirit pengeluaran telah lama habis. Tepat di samping sebelah kirinya, penjual es kelapa muda tampak sibuk melayani pembeli. Ia menelan ludah. Semua uang hasil kerja kerasnya hari ini hanya untuk kado Dika. Bagaimanapun ia tidak boleh memakai uang itu walau secangkir air minum.
Di pinggir jalan tidak jauh dari Kebun Raya Bogor, ia mulai menghitung semua hasil jerih payahnya hari ini. Seribu.. dua ribu.. tiga ribu.. dia mengelap peluh di keningnya. Keuntungan yang didapat hari ini lima ribu rupiah setelah dipotong biaya pembelian balon dan gas. Alhamdulillah... Ucapnya masih bersyukur dengan segala kekurangan yang ia dapati. Ia harus segera pulang sebelum tiba saatnya waktu menjelang tidur. Ia tidak ingin membiarkan Dika menunggunya terlalu lama. Ia berjalan berbeda dengan arah kepergiannya. Langkah kakinya ringan menuju toko buku yang berada di perempat jalan sekitar 5 km dari rumahnya. Melihat cahaya lampu yang masih menyala dari toko buku Senja yang akan ia datangi, menyiratkan sedikit kegembiraan dalam hatinya. Ia masih punya cukup waktu untuk memilih buku yang pantas untuk kado anaknya.
Puluhan buku terpampang rapi di dalam etalase toko. Hingga kebingungan melanda dirinya. Buku mana yang akan dibelinya. Ia kembali menghitung uang yang ada sebelum benar – benar memilih satu buah buku. Seribu.. dua ribu.. tiga ribu.. lima ribu. Kemudian, sebuah buku cerita di pojok ruangan menarik perhatiannya. Warna dan corak cover buku itu, sangat melambangkan sisi Dika, anaknya. Biru laut, ya Dika sangat menyukai warna biru laut. Warna yang menyiratkan ketenangan, setenang Dika yang selalu menunggu dengan sabar kado untuknya selama tiga tahun belakangan ini. Tangannya menggapai buku tersebut dan membaca sekilas isinya. Ia mengangguk tanda akan membeli buku itu. Ternyata harga yang tertera dalam sampul buku tidak sesuai dengan uang yang ia miliki. Huft, ia menghembuskan nafas lemah. Ia kembali harus mencari buku yang harganya sesuai dengan jumlah uangnya.
Setelah berkutat setengah jam, ia pun menemukan sebuah buku saku yang menceritakan tentang dongeng kancil. Dika pasti menyukai buku ini karena selain isi buku yang membuat geli pembaca, gambar di dalamnya menambah nilai plus buku itu. Terbayang di otaknya reaksi Dika kelak. Dika pasti akan sangat senang mendapatkan kado ini. Kado yang sudah tiga tahun diidamkannya. Ia tidak sabar lagi untuk segera pulang dan mendapati wajah riang anaknya.
Ia pun melangkah ke kasir untuk membayar belanjaan yang ia pilih. Sambil menunggu kasir mengetik belanjaan orang di depannya, sudut matanya menangkap seorang anak kecil yang terbaring lemah di depan toko. Melihat anak itu ia jadi teringat Dika. Ia berjalan mendekati anak kecil tersebut. Tubuhnya panas tinggi dan ia menggigil hebat. Tak ada seorang pun yang berniat menolong anak kecil itu. Semua bersikap acuh tak acuh pada kondisi yang terjadi pada anak itu. Muncullah rasa iba sebagai seorang ibu melihat seorang anak kecil menderita seperti itu. Ia tidak dapat membayangkan kalau Dika mengalami hal yang sama dengan anak ini. Ia tidak memiliki uang lagi kecuali uang yang akan ia bayarkan untuk membeli kado kecil untuk Dika. Ia menimang – nimang uang itu sambil sesekali memandangi anak kecil itu. Ia harus memilih, memakai uang itu untuk kado kecil Dika atau menolong anak kecil di depan toko…
Haruskah Dika kembali menunggu kado kecilnya tahun depan? Ibu tua itu menggeleng lemah. Atau haruskah ia bersikap acuh kepada anak yang terbaring menggigil ini di depannya? Ia tidak sanggup memilih. Batinnya sesak terhimpit pilihan yang sangat sulit.






                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                       

nyolong cerita dulu ahh....

Rangkaian kata menyusun lirik di tiap paragraf yang kutulis. Cerita ini mengenai sisi kehidupan yang sekiranya tak akan pernah aku temui tanpa kemurahan Tuhan yang menyayangi hambaNya. Terima kasih Tuhan kerena telah memberikan kesempatan bagiku tuk berjalan bersamanya. Merangkai cerita cinta yang sangat indah bagiku dan sekiranya cukup indah baginya begitu pula bagi teman teman kami.

***
Waktu terus berputar hingga akhirnya kutersadar bahwa harapanku tuk memilikinya sangatlah kecil. Aku sadar siapa aku. Aku sadar siapa orang yang saat itu berdiri tegak disampingku. Karena orang itulah aku menyadari bahwa tak ada kesempatan sekecil apapun tuk menghampirinya. Dan semakin sulit pula ketika orang yang sebelumnya aku kasihi dan aku sayangi meninggalkanku tuk sejenak, mungkin, atau untuk selamanya. Tak ada kabar. Tak ada sedikitpun lisan atau secarik tulisan yang ia tinggalkan untukku. Aku bingung. Hal apakah yang harus kuperbuat? Diam tak berdaya. Senar kutarik ketika layangku terbang tersapu angin sore.
Orang yang aku impikan telah memiliki perempuan. Perempuan yang ia puja. Benar kata temanku, “ Buad apa kau menanyakan lelaki itu.? Riyo telah beristri. Bodoh.!!”
Hatiku tiada henti memikirkannya. Walau beristri pula yang kupikirkan. Mendengar kabar mengenai sahabatnya, kegiatan yang ia ikuti dan bahkan organisasinya pun membuatku penasaran. Riyo, Riyo, Riyo, dirimu terus membayangiku di tiap langkah yang kutapaki di bumi ini. Semenjak kau menunjukkan pada khalayak bahwa bumi kita butuh tindakan bukan bualan, tiada henti kubertanya siapakah dirimu sesungguhnya. Tak pernah kudengar kabar tentangmu. Urutan nomor yang kuharap ada di daftar panggilanku pun tak ku temukan. Hingga sahabatmu, Ardi yang kebetulan memang ia adalah anak yang bisa dibilang easy going mulai menyapaku. Hingga Ardi pantas dipanggil sebagai teman. Hubungan pertemanan yang tak lama kemudian berubah menjadi cerita cinta dan tak lama pula berubah menjadi hal bodoh bagiku.
Benarkah Ardi menyayangiku sepenuh hati? Benarkah ia menyisihkan waktu disebagian harinya untuk terisi cerita mengenai aku? Sejenak aku mulai ragu. Mulai mempertanyakan siapakah aku dimata Ardi. Jika benar aku adalah orang yang ia kasihi, mengapa ia menanyakan isi hatiku terhadap sahabatnya? Ataukah jangan jangan Ardi tau apa yang sebenarnya kupendam jauh dalam hatiku?
Hari terus berjalan, waktu tak henti berputar. Orang yang ku kasihi meninggalkanku tanpa sepatah kata. Air mata yang seharusnya tak kujatuhkan kini mulai merambah wajahku hingga mengering dan kembali basah lagi.
Jauh perasaan yang indah itu kubuang.

***
Teman menghampiriku di sore yang indah akan senja matahari di barat langit. Mengajak berbagi suka cita dan bahkan duka tercurah di antaranya. Bersama lebih baik dari pada hanya seorang. Keceriaan, kesenangan, tawa akan kebahagiaan kami jalani tanpa henti. Menyosong hari dan membuatku tegar tanpa kehadiran cinta. Tak kusangka teman yang kuajak bercanda ini memiliki sebuah hubungan dengan seorang yang kukenal. Seorang yang sebenarnya tak mungkin aku miliki.
“Kau kenal dengan Riyo, Li?” kataku.
“Tentu, mengapa tidak. Dia sesosok yang sangat hebat menurutku. Mampu memimpin sebuah organisasi tanpa relasi.”
“Maksudmu?”
“Ardi cuti kuliah. Jelas sudah Riyo seorang diri di Artapala. “
Singkat informasi memberikan gambaran di ingatan ku apa yang terjadi pada seorang yang bekesan di hati. Seseorang yang membuaku terkagum atas cintanya terhadap bumi.
Samar samar kubertanya, “Apakah ia masih beristri, Li?”
“Yah, tak begitu kumengerti jalan pikirannya. Kurasa ia cukup bahagia dengan wanitanya. Bahagia dengan pertengkaran di tiap harinya pula.”
Apakah aku diijinkan menemuinya barang sekali saja, kataku dalam hati sembari berkata “Oh..” pada Lia. Kuberanikan menulis sebuah pesan pendek untuk Riyo melalui alat komunikasi yang sangat unik bagiku. Kutunggu beberapa waktu hingga alat komunikasi itu kembali berbunyi.
Ada apa Munk? Begitulah sebuah pesan yang kembali kuterima. Singkat tapi ada rasa senang dan sedikit tak percaya dengan apa yang kubaca saat itu. Bermula dari pesan pendek itulah banyak kegiatan kulalui agar bisa bertemu dengannya. Hanya memandang wajahnya sangatlah berkesan untukku.
Peringatan hari Bumi pada 22 April tahun ini, tepat satu tahun setelah awal pertemuanku dengannya. Sengaja kuikuti kegiatan pendakian gunung itu, agar kutemui wajah bijaknya. Oh, Tuhan terima kasih atas waktu yang Kau berikan saat itu. Ucapan syukur tak henti bergaung di dalam benakku. Banyak kenangan yang telah terkubur jauh kini timbul lagi di permukaan hariku. Rasa pahit dan manis bercampur menjadi satu. Indah tetapi menyedihkan.
“Itu lo, Munk istrinya Riyo”, kata Lia padaku di tengah kegiatan bersih gunung.
“Ha?” kataku terkejut. Mengapa sangat mirip sekali denganku, kataku dalam hati. Ah, jelas tak mungkin. Ini hanya pemikiranku sesaat saja. Kebetulan yang tak disengaja.
“Halo, Na, salam kenal. Aku Amunk”, sapaku pada seorang gadis cilik berjilbab. Satu kata yang tergambar dalam benakku adalah manis. Pantaslah Riyo menyukainya.
“Oh, Amunk ya. Riyo pernah bercerita tentangmu. Memang kita mirip.”
Hanya senyum kecut yang kuberikan pada gadis itu. Yah, kuharap tak sadar ia akan hal ini. Kucoba untuk mendekati gadis itu. Mencari cari hal yang seharusnya tak boleh kuketahui. Tetapi seiring langkah yang kami lalui bersama, ia mulai bercerita.
“Munk, lama sudah kupendam cerita ini. Tak seorang pun tau. Kini kubuka diri untukmu.”
Berdebar kencang jantungku saat mendengar ucapan itu keluar dari mulut Nana. “Sesungguhnya antara aku dan Riyo telah lama tak ada jalinan kasih seperti dulu. Begitu hampa dan tak bernada.”
“Apakah Riyo telah menyakiti hatimu, Na?
“Tidak juga. Hanya saja ada bayang seseorang kembali muncul di hatiku. Aku jatuh cinta lagi padanya”, katanya sambil tersipu malu dan dengan tanpa rasa berdosa. Sakit hatiku. Orang yang kudamba ternyata dikhianati oleh wanitanya. Aku disini menunggu dan berharap, tetapi ia yang dikasihi malah mencari yang lain. Riyo tetap saja mengulurkan tangan, memberikan pertolongan untuk Nana saat itu. Bagai tertusuk duri dadaku ini melihat apa yang sesungguhnya terjadi diantara mereka. Walau ada sedikit perasaan senang, tapi tidaklah pantas bagiku berbahagia di atas penderitaan orang lain.

***
Selang kegiatan berlalu, kukirim kembali sebuah pesan pendek untuk Riyo. Dan kami saling berkabar. Tak terasa tumbuhlah perasaan aneh antara Riyo dan aku. Sayang? Ah, bukan. Saling percaya? Ah, bukan juga. Kupikir perasaan ini adalah sesuatu yang tak lebih dari sekedar perasaan nyaman saat kami saling memberi. Ia mampu menjawab segala hal yang membuatku bertanya tanya sebelumnya. Begitu pula sebaliknya. Ia begitu mengerti dengan apa yang kuharap.
Tak butuh waktu yang lama bagi kami untuk tau apa yang kami rasa pada saat itu. Indah rasanya. Lebih indah dari apa yang kurasa sebelumnya. Sebuah cerita yang dulu penuh akan kenangan kemudian terhapus kini tergantikan dengan cerita bahagia bersamanya. Batinku terharu dengan segala hal yang kuimpikan sebelumnya. Setitik air mata bahagia jatuh menghiasi wajahku.

***
Kenangan demi kenangan kembali memenuhi isi ruang dan waktu hidupku. Kutorehkan tinta di secarik kertas untuk berbagi kebahagiaan dengan kalian. Bersabarlah akan segala sesuatu. Karena sesungguhnya Tuhan itu Maha Pengasih lagi Maha Pemberi.

surat jawaban sahabat


Maaf karena aku terlalu egois dengan mementingkan kepentingan pribadiku saja..
Aku yang tinggalin kamu, di mana saat kamu butuh uluran tanganku meski lemah
Tapi aku buta
Aku buta seakan lupa bahwa sahabatku masih di bawah dan tidak menoleh ke belakang
Aku yang tuli
Yang bahkan tak mendengar jerit hatimu
Dan segala inderaku yang seperti mati
Apa yang aku cari??
Entah, aku sendiri tak tahu
Bahkan ketika sampai puncak perasaanku hampa
Seperti ada yang tertinggal
Tapi apa??
Aku mencoba menganggap semuanya baik-baik saja
Aku pura-pura bersikap tidak ada yang berubah
Dan aku tahu, saat itu aku sadar
Kalau aku sudah membohongi perasaanku sendiri dengan bilang semua baik-baik saja
Padahal aku sudah merusak semuanya
Maafin aku yang tidak bisa menjadi sahabat yang baik
Bahkan rasanya aku tidak pantas disebut sebagai sahabat… Maaf       

wahai kawan...

Kawan…
Sudah tiba saatnya kita dewasa
Mampu memahami beda antara berkah dan musibah
Antara karunia dan petaka
Mana yang semestinya membuat tertawa atau mengalirkan air mata


Kawan…
Mari berjalan bergandeng tangan
Perjalanan ini masih panjang
Gunung, lembah dan sahara menghadang
Jauh lebih mudah kita hadapi
Jika kita tidak sendiri


Dan di sinilah aku
Aku akan berusaha memahami perasaan orang-orang yang kujumpai
Dan memaklumi orang-orang yang selalu marah
Karena belum bisa memahami perasaannya sendiri
Karena di alamlah
Kita mengetahui semua sifat asli orang-orang di sekeliling kita

story to angel's life


Sengaja aku membagi cerita pengalamanku dalam 2 versi :
1.      Versi petualangan  : dalam versi ini aku akan menceritakan kronologis dan rentetan waktu serta kejadian dari awal trip hingga akhir.

2.      Versi perasaan  : versi ini lebih kepada perasaan hati yang terlampau merasa sedih. Entahlah ini berlebihan atau tidak. Tapi bagiku versi kedua inilah yang paling banyak memengaruhi kehidupanku selanjutnya. Kehidupan penuh lika liku.

Versi perasaan part 1 :
Aku senang menghitung hari yang terus mendekati waktu keberangkatanku untuk melakukan perjalanan selanjutnya. Tidak hanya tempatnya sajalah yang istimewa, karena aku telah lama memimpikan sejak lama ingin ke sana, tapi juga karena aku pergi bersama teman sekaligus sahabat yang memiliki cita-cita yang samaserta bermimpi akan pergi bersama berdua. Rasanya seperti mimpi dan tak percaya. My dream comes true. Awalnya aku merasa menjadi jagoan dan emmerintahkan ini itu keadanya agar mempersiapkan diri dalam perjalanan trip to semeru ini. Aku tak tahu kala itu aku merasa prihatin dengan kondisi mereka yang tak pernah olahraga atau hanya ingin meremehkan mereka saja. Tai sungguh ada perasaan lain kala itu yang ternyata jelas kuketahui setelah akhir cerita ini. Waktu sudah di depan mata, kelompok perjalananku bertambah 2 orang yang tidak hanya membantu perjalananku dalam segi fisikku saja namun juga dalam segi psikisku.
Aku geleng-geleng kepala melihat daftar list yang telah aku buat untuk mereka yang meskipun dipenuhi dengan baik tapi belum sempurna. Oke, fine !! sesampainya di tumpng tempat peristirahatan sementara sebelum melanjutkan perjalanan di esok harinya, dia sudah membuat gangguan lewat pertengkaran dengan kekasihnya. Huft,,

04102011

Aku mengalami kejenuhan yang amat sangat..
Kejenuhan menunggu orang yang kusayangi..

Tak ada perkembangan, tak ada berita dan tak jua ada kabar..
Seperti tak mengenal dan aku mulai membenci keadaan ini..
Keadaan dimana aku tak bisa berontak dengan hatiku sendiri..
Dan itu sangat menyakitkan..

Aku belajar bersabar..
Namun aku jatuh juga dalam keputusasaan yang mendera..
Ini bukan diriku yang sebenarnya..
Aku tak bisa mengeksplor sifatku sendiri..
Aku hanya terkungkung pada sesuatu yang tak kusukai tapi memaksa suka..
Semua berasal karena kebodohan yang aku buat sendiri..
Kebodohan mencintai seseorang yang mungkin tak pernah mencintaiku..

Dan sakit itu kembali terulang..
Dalam tangis yang tak dapat kudengar..
Dalam lara yang menekan batinku..
Dalam jiwa yang kembali terjatuh di lubang yang sama..

aku bukan dia...


08072011

Jujur aku tidak seboros yang ada di pikiranmu
Andai aku mampu berkata jujur
Andai aku mampu mengatakan bahwa aku menanam saham untuk masa depan
Andai aku mampu jujur masalah keuanganku sebenarnya
Pastilah tidak sekecewa itu wajahmu memandangku

Aku tahu benar bagaimana perjuanganmu untuk menyekolahkanku hingga perguruan tinggi
Aku tahu semua itu !!!
Namun aku bukan Nisya
Aku bukanlah kakakku dan aku hanyalah aku
Anak ketigamu yang memiliki caranya sendiri dalam mengatur keuangan

Aku punya simpanan tanpa kau ketahui
Aku hanya tak ingin mencari muka di depanmu
Aku ingin melakukan semuanya
Membahagiakanmu, mensukseskan diriku sendiri yang aku tak tahu apakah kamu menyukai caraku atau tidak

Namun yang jelas
Aku mohon, jangan memandangku seburuk itu Umii…

04072011

jujur aku merasa tidak enak pertama kali mengirimkan pesan itu padamu
Kamu menjawabnya dengan ringan tapi aku tak tahu pasti apakah ringannya bahasa balasanmu seringan hatimu meminjamkan tenda yang sama sekali belum pernah kamu pakai
Tapi sungguh aku merasa senang di kala kamu membantu aku dalam kebingungan yang sangat untuk memenuhi peralatan menggapai mimpiku
Mimpi yang telah terpendam selama bertahun-tahun itu, mimpi Soe Hok-gie di akhir hayatnya
Kamu terlalu baik kepadaku, aku bahkan seperti tak mampu membalas kebaikanmu kecuali mencintaimu sepenuh hatiku
Aku khawatir kamu menganggapku hanya memanfaatkanmu saja
Tidak, tidak seperti itu
Sungguh !!
Aku hanya tidak tahu ingin meminta tolong kepada siapa lagi kecuali kamu seorang
Aku telah berusaha untuk tidak terlalu bergantung kepadamu
Tapi entah mengapa rasanya sulit
Dan sampai kini aku masih terus bergantung padamu
Selalu ada saja moment di mana kamu, aku butuhkan
Dan aku tak bisa menyangkalnya…


04072011

Aku suka sekali di kala kamu terdiam tak bisa menjawab pertanyaanku yang menjebak

Sebenarnya ingin sekali-kali kamu menjawab itu semua

Namun pasti semua itu akan membuka jati diri kamu yang sebenarnya

Kamu terlalu introvert

Aku ingin mengetahui semua tentang kamu tapi kamu selalu pintar menyembunyikan segalanya demi kebaikan kamu sendiri

Padahal tak mengapa kamu buka sekali-kali jati diri kamu

Bukan keuntungan untukku saja tetapi untuk keuntungan dirimu juga

Sayang, kamu terlalu bersikap berhati-hati dan terlalu pemikir

Sangat bertentangan denganku

Kita memiliki perbedaan yang begitu mencolok tapi itu yang membuatku tak bisa melupakanmu

Selalu ada namamu dalam setiap perjalanan hidupku bahkan di kala aku terjebak dengan pikiran liarku sendiri.

Selasa, 21 Juni 2011

Tersudutkan....

air mata terus membasahi pipi ini kala kuingat kejadian siang tadi. aku tersudutkan pada sebuah kebohongan yang kukarang bersama sejumlah orang dan aku harus membela diri sendiri. mencoba menutupi kebohongan demi kebohongan yang ada dan tanpa adanya perlawanan dari siapapun kecuali batinku sendiri.
jujur rasa malu itu ada. ada sekali bahkan memenuhi seluruh aliran darahku kala kusadari mereka mengetahui kebohongan yang telah kurajut sedemikian rupa. entah karena aku yang terlihat terlalu polos, atau karena mataku yang tak mampu berbohong seperti dulu lagi.
dan aku mengorbankan seluruh harga diriku terinjak ringan di bawah kakinya. aku seperti ditampar ribuan orang dan dihempaskan ke dalam jurang. hingga kemudian aku muak dan mengakhiri kebohongan itu sendiri dan mengakui kesalahanku. aku tersudutkan.
mereka telah mampu mengambil ketenangan ku dan menguras semua emosiku hingga aku menyerah di antara senyuman mengejek dari mereka. dan semua itu kulakukan untuk menolong semua orang yang berada di balik kebohongan itu sendiri.
memang tak ada yang lebih hina daripada ketahuan berbohong dan semua itu terjadi pada diriku. diri yang di bangun pada sebuah kepercayaan agama tinggi dari kecil oleh kedua orang tuaku dan kini aku menodainya.  maafkan aku bunda, ayah...aku tak mampu jujur di suasana yang aku sendiri tak mampu hadapi. pada saat itu aku merasa harus pergi dari sebuah kejujuran untuk mendapatkan apa yang aku butuhkan. dan kini aku menyesal.
lebih menyesal dari sebuah keadaan yang membuatku tak mampu menatap mentari pagi setegak badanku dulu. rasanya semua mata memandang hina kepadaku. dan aku kembali tersudutkan

Jumat, 17 Juni 2011

getaran itu masih ada

huft, melupakan bukan kata yang sulit untuk diucapkan tapi pada kenyataanya sangat sulit dilakukan. 4 tahun sudah aku mengenalmu lewat cyberspace ini dan telah ku akhiri pertengahan akhir tahun lalu. aku ingin menutup lembaran cerita denganmu. mencoba membuka yang baru dan merangkai sajak-sajak indah yang mampu meringankan jejak langkahku.

6 bulan sudah kutetapkan hatiku untuk tak memandang ke belakang. tak menoleh masa-masa denganmu. karena telah kuakhiri dan tak ingin kukenang. bagiku suatu kebodohan bisa mengenal dan memercayaimu. tapi aku akui getaran itu masih ada kala kulihat namamu ada di dalam daftar teman online ku. ingin ku sapa dan kutanya kabar. tapi sama saja menjatuhkan harga diriku yang telah terinjak di kakimu. tidak, aku telah berjanji untuk mengakhiri segalanya dan tak mau menoleh ke belakang. aku harus konsisten dengan ucapanku yang masih terukir dalam message yang kukirim 6 bulan yang lalu.

getaran itu masih ada walau tak sekencang dulu. tapi jujur kukatakan aku masih ingin tahu siapa kamu dan bagaimana rupa wajahmu dalam kenyataan mataku melihatmu dalam jangkauan pandangan normalku. aku masih penasaran

Kamis, 16 Juni 2011

kesempurnaan hanya milik tuhan

akhirnya selesai sudah perjuangan acara pertamaku dalam dunia ke mapala-an. tidak,  maksudku acara yang digawangi olehku walaupun aku tak sepenuhnya mampu. rasa kesa, sedih, marah, senang menyatu dalam relung kalbu yang tak mampu terucap. hanya senyuman.

tak ada yg sempurna, seperti juga acara orasi HLH ini. tak begitu sempurna namun sambutan senang dari masyarakat yang membangkitkan semangatku kembali. di antara derai tangis dan rasa ingin pergi dari tanggung jawab, aku masih mampu bertahan. tapi tak berhenti sampai disini. aku harus semangat menyelesaikan tugas terakhirku. menanam bibit yang masih tersisa dengan daun-daun yang terus melayu serta menuntut kembali uang bulananku bulan juni ini di pengeluaran matra yang akan tergantikan apabila uang DIPA keluar. aku harus terus semangat. semangkaaaaa......

Rabu, 08 Juni 2011

apa sih konsep menurut kalian itu??

"konsep orasi kamu seperti apa dila?"
pertanyaan itu lagi,,hedeh...
udah gue jelasin berkali-kali kalo saat orasi kita akan jelaskan maksud dan tujuan gue ngadain acara ini. lalu konsep seperti apa yang lo maksud sih??kalo gue gk tahu tolong jelasin dong..gue kan gk ngerti apa-apa !!
gue bikin acara ini untuk kalian, tidak maksud gue untuk kita semua. tapi mana aspirasi kalian??
bantu gue dong di saat gue linglung kayak gini, bukan malah terus bertanya, konsep seperti apa dila?konsepnya apa?kayak gimana....
aaaaarrrrggghhhhhhhhhh...........
aku terus memutar otak sendiri, konsep seperti apa yang mereka maksud? aduh, ngadain satu acara jja sampe sesusah ini, udah kayak daki gunung seribu dan selam lautan..*mulai lebaayyy
online ah, cari orang yang bisa bantu tanpa kritik. satu..dua..tiga gagal semua.
mereka berpikir kalo gue mau demo. heloooooooo...
orasi itu gk cuma demo ya?! orasi gue itu mau ngajak kebaikan bukan mau minta turunkan bbm...
makin ruwet dan males tidur. tapi ngantuk sih hehe...
sabarr....
at 12.10 seorang peri cantik datang dan berikan semua kemudahan. dia ciptakan sebuah konsep dan menjelaskan pada gue yang berasa udah gk punya otak lagi karena mumet di serang kanan dan kiri. semua jadi terang benderang dan gue siap bermimpi indah untuk esok pagi.
awas aja kalo masih bertanya konsep kamu seperti apa dila????
gue ceburin ke empang yang banyak lele kelaperan biar dimakan semua kebodohannya. hiiiiaaaaa.....

Senin, 06 Juni 2011

ucapan itu doa gan !! hati-hati...

Lidah tidak bertulang dan setiap kata yang keluar dari mulut kita adalah hal yang harus diwaspadai.
Baik untuk kebaikan kamu sendiri ataupun orang di sekelilingmu.

Tapi entah pikiran dan kebodohan dari mana malam ini aku menemukan satu akun facebook yang menampilkan seolah ada kematian di sana. Aku bukan main terkejutnya, karena belum lama ini aku baru saja berkomunikasi dengannya melalui ponsel seluler.

Tak butuh waktu lama untuk berpikir, aku langsung menanyakan kebenaran berita tersebut dan berbunyilah dering ringtone handphone kesayanganku. 1 new message, bacaku dalam hati. Sms dari siapa malam2 begini? tanyaku heran.

Aku membukanya dan seperti ini isinya "Dil lo juga bantu gue ya kirim wall seolah-olah gue mau mati dan support gue untuk tetap bertahan hidup, ini gak beneran tapi"

OMAIGOTTTT??????!!
Ketololan apa yang ada di otaknya hingga dia bisa memiliki ide seperti itu. Ucapan itu doa kawan, aku tidak bisa membayangkan kalau benar jadinya ide ketololanmu itu diamini oleh Tuhan yang Maha Menentukan umur kita.
ckckkckckckkc.....

Sabtu, 04 Juni 2011

sampai jumpa di kehidupan yang baru...

pepatah bilang "selalu ada perpisahan dalam sebuah pertemuan".
ya aku tidak pernah memungkiri hal itu dan akan munafik jadinya kalau aku memungkirinya. tak ada sebuah kata pertemuan jika tidak dibarengi dengan perpisahan dan aku telah mengalaminya berkali-kali. ketika harus berpisah dengan teman SD, lalu SMP, SMA dan teman-teman lainnya yang kutemui di mana pun aku melangkah

pantaskah kau pergi di saat acara yang kubuat belum terlaksanakan??pantaskah kau lari dan tak menoleh di saat aku ingin mengucapkan rasa terima kasih yang mendalam atas semua bantuan moril dan segudang ilmu yang kau punya demi kelancaran acara ini??

bukan aku tak memahami keadaanmu, bukan aku tak memahami keseriusanmu dalam menjalani hidup baru, bukan..bukan karena itu. tapi lebih kepada aku ingin ini menjadi momen terakhir kebersamaan keluarga baruku bersamamu. tempat yang telah kujadikan kedua di hatiku setelah keluargaku sendiri.

rasanya baru sedikit ilmu yang mampu kuserap dari dalamnya ilmu yang kau punya. aku malu, sungguh malu rasanya ketika aku harus terus-terusan bergantung padamu. bertanya ini itu layaknya manusia bodoh tak memiliki otak, aku malu ketika harus mengeluarkan jurus memelasku di depanmu agar kau mau membantuku. tapi semua itu bukan tanpa alasan sedikitpun. semua itu beralasan. sangat malah...

kamu lebih kupercayai, lebih mampu memahami, dan lebih dalam ilmu serta tak mahal memberi. aku tidak ingin membandingkan dirimu dengan yang lainnya. aku tahu semua memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing dan itulah kelebihan yang kamu miliki yang selalu mampu membuatku menjadi lebih dewasa serta tegar menghadapi semua ini.

jujur saja aku sudah kagum padamu sebelum aku mengetahui dirimu yang sesungguhnya. aku mampu membaca kemurahan hatimu tapi sayang aku baru lebih mengenalmu tak lebih dari 4 bulan sebelum perpisahan ini.

huft, aku selalu menyerah pada takdir. kali ini aku tidak ingin memaksakan diriku untuk meminta kehadiranmu di acara pertamaku. tapi harapan itu masih ada. karena aku rasanya masih berhutang banyak padamu. hutang yang tak mampu aku bayar dalam bentuk uang.bukan karena terlalu banyak hutang itu tapi karena terlalu besar nilainya hingga milyaran rupiah pun tak mampu menggantikannya.

sampai jumpa di kehidupan yang akan datang dimana kita memiliki cerita-cerita baru yang lebih banyak sehingga aku tak pernah bosan mendengar ceritamu walau terkadang dirimu berusaha lucu malah menjadi jayus.

*cepet sembuh ya mas, jauhkan dirimu dari barang yang tak berguna itu. sudah ku bilang tak pernah ada baiknya kau menghisap barang itu. hanya merusak kehidupanmu dan masa depanmu. selamat berjuang dalam pertempuran yang sebenarnya..:))

kapan bisa jalan sama kalian lagi...

we with ceafs in teluk semut


beres-beres mau pulang


 pose sebelum ke teluk semut


 say good bye in last journey


seperti tak mampu berpisah

Dia yang berbeda

aku menemukannya dalam ribuan teman yang ku punya di dunia maya. Kami memiliki kesukaan yang sedikit banyak sama walaupun tidak dalam hal makanan. dia tidak menyukai sayuran yang aku suka. tapi buatku itu tidak pernah menjadi masalah dalam pertemanan kami.

Bagiku setiap orang itu berbeda termasuk juga dia tapi perbedaan itu semakin terasa mencolok ketika ketikan demi ketikan chat yang ia kirimkan sampai di ruang mayaku. Dia berbeda, bukan seseorang yang mampu kudekati dengan baik dan bukan orang yang mampu kujauhi dengan baik pula. Sebagai orang yang easy going menurut temanku, aku tidaklah pernah sulit mengkondisikan diriku di dalam pertemanan baru tapi tidak dengannya. sulit ya sangat sulit membuat ia bercerita siapa dirinya, bagaimana keluarganya, dan semua mengenai pribadinya. Dia hanya mampu bercerita lancar mengenai organisasi yang dicintainya. Yang berkembang di jalur yang sam-sama aku suka pula.

Setelah sedikit banyak aku mengetahui dirinya, dia ternyata bukanlah manusia yang sama sifatnya dengan diriku. dia adalah seorang yang introvert. tidak mampu berkata,tidak mampu terbuka bahkan kepada keluarganya sendiri. sungguh aku akan tersiksa jika menjadi dirinya. sebenarnya dia juga merasa seperti itu tapi apa daya ia tak mampu menjadi yang lain. tak mampu...

dia berbeda dan aku seperti terseok dalam permainan hidupnya. mencoba menggali lebih dalam kepribadiannya namun aku semakin terkukung dan tidak bisa lepas di kala aku ingin keluar dari semua ini.

dia menjauh, entahlah tapi pikiranku tentangnya tak pernah menjauh selalu bersama dirinya yang aku kenang dalam setiap pertemuanku di malam hari di depan pagar kostku.

suatu hari kita berada di suatu acara yang sama, aku memanggilnya tapi tak pernah ia menolehkan pandangannya ke arahku. sakitt...

aku coba berpikir positif, mungkin dia tidak mendengarnya, gumamku dalam hati. tapi hingga akhir acara dan ia melihatku. hanya tolehan sejenak lalu sibuk berbincang dengan kawan sepermainannya. huhuhuu....

mungkin aku salah?tapi salah apa??tak ada yg tahu akan jawabannya kecuali dia semata.

aku ingin melepaskan bayangannya dalam ingatanku tapi apa daya mimpi-mimpi tentangnya malah semakin menari nari dalam malamku yang sunyi. bayangan dirinya di depan pagar tampak semakin jelas dan harum parfumnya kutemui di setiap sudut kamarku.

aku tak bisa melepaskannya dalam kegelisahan yang semakin mendera. dia tidak pernah tahu atau mungkin tak mau tahu. entahlah..

dia sungguh berbeda...

Kamis, 02 Juni 2011

pulau sempu----seribu cinta untukmu

berawal dari sebuah pesan di situs jejaring sosial Facebook. seorang yang tak pernah kukenal mengirim pesan berisi ucapan terimakasih karena aku telah meng-add dia menjadi temannya. jujur pada saat itu aku heran. pasalnya, aku adalah orang yang paling malas menambah teman yang tidak aku kenal. aku terus bertanya-tanya dan mulai membuka profilenya. pada saat itu dia memasang foto yang berlatar belakang sebuah gunung. aku sangat ingin mengembara gunung-gunung sehingga rasa penasaranku semakin membesar. aku lihat foto di albumnya dan terkejutlah aku kala aku melihat dia dan teman-temannya berfoto di sebuah pos bertulisakan Ranu pane. sebuah pos menuju gunung semeru. gunung yang aku dambakan setelah membaca novel 5cm. thanks to dony yang udah bikin aku jadi tergila-gila dengan semeru. penjabaranmu tentang gunung semeru di novelmu begitu memukau. kembali ke cerita awal, aku lalu memberikan comment semua foto-fotonya dan tak disangka pada saat itu dia juga sedang online. lalu berlangsunglah sebuah percakapan panjang mengenai beberapa hal. dari mulai pengenalan diri, hobi, hingga tempat-tempat menarik yang wajib dikunjungi. dengan iseng aku katakan jikalau dia ingin pergi ke tempat menyenangkan itu. ajak lah aku untuk ikut serta. hari-hari lalu kujalani seperti biasanya.
Dan dia mengatakan akan mengunjungi sebuah pulau di selatan kota Malang. Kala itu aku bimbang akan ikut serta atau tidak. Pikiran aneh mulai menyelimuti diriku tentang dirinya. Perkenalan yang begitu singkat.
Hari-hari kujalani seperti biasanya. Namun aku masih penasaran dengan sosok dirinya, teman facebook-ku. Dua hari kemudian kubuka facebook-ku dan menemukan sebuah pesan dari dirinya. Dia menanyakan kesungguhanku untuk ikut serta dalam perjalanannya nanti ke pulau tersebut. Entah dirasuki cenayang dari mana aku mengiyakan pertanyaannya. Setelah membalas pesannya dengan menuliskan nomor ponselku serta agar lebih mudah memberikan info selanjutnya, aku kembali diterkan rasa kebingungan yang amat dalam. Akan pergi bersama siapakah aku nanti?? Setidaknya aku harus memiliki teman yang mampu kuajak berbincang dan telah mengenalku lebih lama kalau-kalau aku hanya menjadi obat nyamuk saja. Ku ajaklah ka Retno, teman SMP kakaku dulu yang kebetulan satu kost denganku. Awalnya dia menolak ajakanku karena aku pergi bersama orang yang belum pernah kukenal sebelumnya. Tapi aku tak penah kehilangan akalku, ku suruhlah dia untuk membuka terlebih dahulu foto-foto pulau sempu yang telah banyak beredar di dunia internet. Setelah melihatnya, kulihat rasa menggebu-gebu untuk menginjakkan kakinya di pasir putih tersebut ada pada wajahnya. Ia pun mengangguk tanpa keraguan. Syukurlah… ucapku dalam hati.
Waktu terus berjalan dan perjalanan menuju pulau sempu semakin dekat untuk dihadapi. Aku pun menuruti setiap perintahnya untuk memnuhi daftar barang yang perlu kubawa nanti. Dikarenakan aku tidak memiliki tas ransel yang cukup kuat untuk menampung barang-barangku selama 5hari 4 malam, dia berjanji meminjamkan aku tas ransel. Awalnya kukira ia hanya membual semata karena 2 hari sebelum hari H dia tak juga ada kabarnya. Rasa penasaranku semakin membuncah dan kutanyakan kesungguhannya kembali 1hari sebelum hari H. dan ia berkata akan mengantarkan tasnya esok hari saja karena hari telah larut dan ia tadi ketiduran. Aku menolak dan meminta ia mengantarkannya hari ini saja karena aku tak suka mengundur waktu packing. Sesampainya ia di café tempat ka Retno bekerja, aku memperhatikan dirinya dengan seksama. Tak ada tampang seram atau jahat yang kubayangkan, yang ada hanya wajah bulat dengan rambut keriting ikal serta tubuh sedikit gempal. Kini aku mulai sedikit mampu bernafas lega walaupun aku tahu aku tak boleh menghilangkan rasa waspada sedikit saja oleh orang yang tak kukenali.
Esoknya, aku sempatkan diriku untuk mengikuti satu mata kuliah saja sebelum aku membolos untuk beberapa hari ke depan. Semua persiapan sudah selesai, tinggal keberangkatan saja. Jantungku kembali berdegup kencang. Ini kali pertama aku melakukan perjalanan keluar kota dengan orang yang tak kukenali serta ke tempat yang juga asing bagiku. Aku berdoa dalam panikku dan mencoba mengatur nafas sedemikian hingga aku kembali menangkap ketenangan dalam langkahku. Perjalanan pun kembali dimulai dari café tempat ka Retno bekerja. Di sana kami dijemput untuk kembali berkumpul dengan orang-orang yang akan melakukan perjalanan tersebut. Perjalanan dimulai pukul 9 dari stasiun Poncol. Aku, ka Retno, Sunu, mas Pringgo dan mbak Tika.


kinanti yang hilang part 2

Aku terbangun dari tidurku dengan tubuh dibanjiri peluh. "Mimpi ini lagi" gerutuku dalam hati.
"Siapa kinanti itu?? aku seperti mengenalnya dalam mimpiku. tapi tak pernah mengenalnya secara nyata." demi mengembalikan kesadaranku secara utuh. kugapai handuk di depan kamar mandi dan merasakan permainan air membasahi sekujur tubuhku. air selalu membangkitkan semangatku untuk melakukan aktivitas. air juga yang mengingatkanku pada kenangan pahit 5 tahun silam ketika aku masih berada di aceh. kenangan itu tak pernah pupus dalam ingatanku. betapa tidak, peristiwa 5 tahun silam telah merenggut jutaan jiwa yang aku kenali dan aku sayangi. keluargaku, tetanggaku, guru-guruku, dan sahabatku, Nindya. kesendirian selalu membuat ku merasa sepi dan tak berguna. "akh, kenangan itu selalu membuka luka yang begitu menyakitkan."
setelah selesai bermain air. aku melanjutkan kegiatan pagiku, sarapan. sepiring nasi goreng dengan telurmata sapi yang setengah matang cukup mengenyangkan perutku.
entah mengapa hatiku tertarik membaca koran di pojok ruangan. sudah berapa lama aku tak membaca berita? rasanya lama sekali. semenjak rasa trauma itu menjalar aku tak pernah mau mengetahui kabar apapun. koran ini lusuh sekali. kulirik tanggal penerbitannya. 2 tahun yang lalu? waw, cukup lama juga ini koran.

iseng kubaca beberapa halaman dan aku menemukan suatu yang menarik perhatianku. Permata yang tenggelam. begitu judul yang kubaca. mengisahkan seorang gadis muda yang tinggal di rumah sakit jiwa setelah peristiwa tsunami aceh. Apa?? Tsunami aceh?
kenapa lagi-lagi selalu berita tentang tsunami aceh. langsung kulipat koran itu dan aku pergi. sudah cukup kenangan itu kukubur dalam-dalam.