Selasa, 25 November 2014

Terima Kasih untuk Sebuah Kehadiran





Aku menantimu dengan penuh kesabaran. Meminta dengan penuh rintihan agar kau datang. Meski aku tahu kesibukanmu begitu padat. Aku tetap ingin kau ada di sampingku di saat hari bahagia itu. 

Meski kamu menjawabnya dengan penuh ketidakpastian. Aku tetap menunggumu dengan sabar. Aku berharap kamu datang meskipun kamu tak datang, aku hanya bisa menahan rindu yang terlalu menusukku lebih dalam. 

Hingga akhirnya aku lelah menunggu ketidakpastian. Kamu pasti paham betul bahwa aku bukan wanita yang dilahirkan penuh kesabaran. Namun, di saat aku merasa lelah kamu datang dengan wajah tampanmu yang selalu aku sayang. Dengan pakaian gagahmu, melangkah mendekatiku yang baru saja keluar gedung. Aku bahagia kamu datang. Aku ingin berlari dan melompatmu sambil menarik badanmu dalam dekapanku. Namun aku tahan. Karena bahagia itu terlalu meluap. Aku ingin melihatmu melangkah. Ah, langkahmu ringan sekali mendekatiku. 

Terima kasih atas sebuah kehadiran yang sangat kunantikan.

Senin, 24 November 2014

Aku Masih Penasaran





Aku masih penasaran dengan bunga yang kau rangkai hari itu. Hari di mana aku dapatkan bunga dari beberapa temanku. Hari di mana pertama kalinya kamu membeli bunga untukku. Dan hari di mana bunga darimu lebih besar dari semua bunga yang aku dapat. Ah, sayang bunga itu belum sempat aku pegang. 

Aku hanya mengintip nakal ketika kamu pamit pergi sebentar. Masih dengan keinginanku yang ingin diperlakukan mesra. Aku ingin diberi langsung meski tanganku gatal ingin mengambilnya sendiri dari motormu.

Aku masih penasaran, bunga apa saja yang kau rangkai hari itu. Bunga yang kamu beli di perjalanan menuju wisudaku. Aku masih penasaran. Pasti cantik sekali seperti aku yang ingin terlihat cantik di hadapanmu. Meski bunga darimu pasti lebih cantik dari penampilanku.

Aku masih penasaran sama bunga itu. Bunga yang kau beri tepat di bawah kakiku. Terima kasih untuk bunganya. Terima kasih sudah diberi bunga meski dengan cara itu. Aku masih penasaran dengan bunga itu. Berharap memeluknya seperti memelukmu.

Bingung Mulainya dari Mana





“Bingung mulainya dari mana...” 

Begitulah kalimat pertama yang aku utarakan ketika kamu memintaku untuk menulis lagi. Terlalu banyak yang ingin tertulis. Terlalu banyak yang tersimpan dan terpendam di hati. Mungkin sebagian kamu tahu. Sebagian lagi tidak. Begitu pula aku mengenalmu. Sebagian mengenali dan sebagian lagi masih jadi teka teki.

Dua tahun sudah berlalu. Di acara terspesial kita, kamu pun lupa dan aku tetap memelukmu dengan cinta. Ya, mungkin lelaki diciptakan bukan untuk mengingat hari kapan bersatunya dua cinta. Semoga saja kamu tercipta untuk mengingat setiap memori yang tercipta agar lupa bukan jadi suatu alasan cinta terhapus begitu saja. 

Aku ingat sebuah kalimat. Ketika kamu merasa kesal atau bahkan jenuh dengan pasangan, ingatlah momen terindah yang tercipta di antara kalian berdua. Itu yang selalu aku lakukan belakangan ini. Aku membuka setiap lembaran cerita indah kita. Melihat kembali bagaimana raut wajahmu tertawa. Bagaimana cemberut di wajahku tercipta karena keusilanmu yang tanpa jeda. Atau raut wajah lelah kita setelah seharian mencipta rasa. Namun di balik semua itu, ada cinta yang begitu erat terbentuk.

Aku ingat bagaimana tangan kita saling bepegangan erat meski kini masalah pegangan tangan jadi masalah pemecah di antara kita berdua. Aku ingat bagaimana perjuangan masing-masing dari kita untuk saling menjemput dekapan. Meski kini jarak yang dekat terasa jauh di mata. Pohon yang tinggi semakin kencang diterpa angin, bukan? Ya itulah yang aku tahu. Dan itu pula yang sedang terjadi di antara kita. 

Angin terlalu ribut menerpa kita. Bahkan aku masih menggigil menahan terpaan angin padahal aku sudah mendekap erat di pelukanmu. Semoga ini menguatkan kita. Semoga ini membuat rasa kita semakin terjaga. Semoga saja.