Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Juni 2012

jingga kelana



Jingga, entah mengapa kau berkelana dalam hamparan imajinasiku. Mewarnai hari-hari kelabuku dengan spektrum, warna lembutmu. Warna yang menenangkan bagiku.
Setenang setiap untaian kata yang kau tulis di setiap larik surat botolmu. Yang kemudian kau ombang-ambingkan di lautan lepas pantai hijau membiru. Tak tahu arah.
Hingga kawanan lumba-lumba mengantarkannya sendiri padaku. Padaku yang terdiam di bibir pantai. Kelabu.

Kau tahu, Jingga. Tak mudah bagiku menebak apa benar surat botol ini teruntuk diriku. Abu-abu memang karena kau lupa menuliskan nama teruntuk di dalamnya. Entah benar atau salah. Aku hanya bisa menebak, Jingga. Tak pernah pasti.

Aku memberanikan diri membalas untaian katamu. Melalui sehelai daun yang kutemui di bibir pantai. Melalui tinta yang tersendat. Melalui angan harapan  akan sebuahbalasan.
Aku tak yakin. Sungguh, tak yakin. Lautan itu maha luasnya. Dan, kamu yang entah berada di mana.

Tapi lagi-lagi kawanan lumba-lumba itu mengantarkan surat botol itu padaku. Bukan surat baru. Melainkan balasan kata-kataku. Dan, kini semua itu menjadi aktivitas baruku.

Jingga, lama kita tak berkirim kabar. Menuliskan sepatah dua patah puisi angin sore. Menemui kawanan lumba-lumba di bibir pantai. Yang menari riang kala aku mengerutkan wajahku hati-hati. Teramat hati-hati takut mengoyak daun kering temuanku. Daun yang kukirim untukmu.

Tangkapan ikan hasil nelayan ayahku bernasib baik. Dan, ibu memintaku membantu ayah. Memilah jenis ikan hingga menjualnya di pelelangan ikan tak jauh dari bibir pantai. Aku lupa kau di sana masih setia menunggu. Di pantai hijau membiru.

Menunggu apa? Aku tak tahu pasti. Lagi-lagi aku hanya bisa menebak.

Jingga, malam ini aku memandang hamparan langit yang kau lukis untukku. Kamu tahu bintang adalah ciptaan Tuhan yang paling kukagumi. Dan kini, kau lukiskan hamparan langit yang hitam mengkilap dengan jutaan bintang menari indah.

Aku tersenyum. Hingga aku tak bisa menahan tawa kecilku. Kau pintar sekali, Jingga. Membuatku tertawa.

Kau tahu, jingga. Sinaran cahaya bintang lukisanmu menggantikan lilin redupku malam ini. Jujur, aku memandang lukisanmu tak berkedip. Berharap kau lukiskan wajah kita berdua di sana. Wajah kau dan aku kala duduk bersama.

Kau tahu, malam itu aku masih tak percaya diajak kencan denganmu. Bagiku sih ini kencan tapi entahlah bagimu apa.

Tak ada setangkai mawar merah memang, puisi cinta apalagi ribuan lilin berbentuk I love You. Hanya kita berdua dan kue kesukaanmu.

Jingga, semburat senyumku pudar perlahan. Kau tahu kenapa? Karena kulihat bintang berhenti menari untukku. Ada gumpalan awan mendung di pojok kanvas langitmu. Perlahan menutupi ciptaan Tuhan yang paling kukagumi.

Awan hitam mengkilapmu dilahap seketika. Kini bintang yang kau ciptakan untukku hilang tak berbekas. Hanya abu-abu. Lukisanmu kini kelabu. Mataku masih tak dapat berkedip. Hingga aku tersadar ketika hembusan angin membisikkan kata-kata dalam jiwaku.
“Inikah cinta yang kau cari?”

Sabtu, 05 November 2011

kado kecil

                                             Kado Kecil untuk Dika
“Bu jangan lupa ya, kado ulang tahunku tahun ini. Tapi aku gak mau kadonya balon lagi.” Ucap seorang anak kecil di pagi buta kepada Ibunya.
Ibu tua itu hanya mengangguk lemah meski ia tak yakin bisa mengabulkannya. Pasalnya, penghasilan yang ia dapat sebagai penjual balon di Kebun Raya Bogor tidak semudah dulu. Ibu tua itu berjalan melewati pekatnya pagi tak berteman mentari dan menyusuri tiap sudut kota Bogor demi sebuah kado kecil untuk anak sulungnya.
“Kalau saja Bapak masih ada, mungkin tidak sesulit ini membelikan kado untuk Dika.” Rintih Ibu tua itu sambil sesekali menyeka sudut matanya mengenang almarhum suaminya. Ibu tua itu mengayunkan langkahnya dengan mantap tanpa memedulikan jarak yang harus ia tempuh untuk sampai ke Kebun Raya Bogor. Tekadnya bulat. Ia harus memberikan kado untuk Dika di tahun ini selain balon – balon yang dijualnya. Semburat merah jingga matahari yang mulai menyapanya pagi ini menambah semangat baru baginya. Hari ini ia membawa lebih banyak balon dari pada hari biasanya. Ia berharap balon – balon itu dapat habis terjual. Sehingga uangnya kelak akan cukup untuk membelikan Dika kado. Sebuah buku cerita. Ya, satu – satunya kado yang sampai saat ini sangat diidamkan Dika. Di usianya yang masih dalam proses belajar membaca, kado buku cerita pastinya akan menjadi kado terindah buat Dika. Sebuah senyum tipis terkembang di wajah Ibu tua itu membayangkan reaksi anaknya kelak.
Cuaca masih terasa sejuk sesampainya beliau di depan Kebun Raya Bogor. Peluh yang bercucuran di sekitar wajahnya hilang dibawa angin pagi yang masih menyisakan tetesan hujan tadi malam. Sambil menunggu jam buka, beliau memompa setiap balon – balon yang akan dijualnya kelak. Setiap angin yang memenuhi seluk balon tersimpan harapan yang besar dalam lubuk hatinya. “Semoga Sang Khalik memenuhi keinginanku mengabulkan permintaan Dika.”
Semua balon telah terpompa sempurna, tinggal bersiap menawarkan kepada seluruh pengujung. Jam buka tinggal setengah jam lagi. Menunggu waktu jam buka, Ibu tua itu istirahat sebentar sambil menikmati kemacetan yang mulai terjadi. Terlalu banyak siluet kehidupan yang terpampang di hadapannya. Salah satunya adalah seorang kakek tua yang sudah lemah berada di pinggir jalan terlelap tidur seperti tidak mengenal tempat. Kemiskinan selalu membuat keperihan di dalam hatinya. Banyak hal yang selalu menyekat kerongkongannya akan sebuah pertanyaan, dimana hati nurani para petinggi akan kemiskinan yang semakin merebak di negeri ini. Semenjak kematian suaminya karena terserang penyakit jantung beberapa hari setelah di PHK, ia banyak mengerti arti hidup yang sesungguhnya. Ia harus mampu menjadi dua figur sekaligus di mata anaknya. Lagi – lagi sudut matanya basah.
Pengunjung satu persatu berdatangan mengunjungi salah satu tempat wisata di Bogor ini.  Ada pasangan muda – mudi, rombongan keluarga kecil hingga besar sampai rombongan dari sekolah yang sedang berlibur. Ia dengan sigap memanfaatkan momen ini untuk menawarkan balon jualannya. Masing – masing pengunjung memiliki gaya yang berbeda – beda dalam menolak tawaran Ibu tua itu. Ada yang menolak dengan perkataan halus, menggeleng pelan bahkan hingga pengunjung yang berpura – pura acuh tidak mendengar teriakan penawaran harga balon dari Ibu tua itu. Semua itu tidak langsung membuat semangat yang dimilikinya tadi pagi luntur seketika, malah semakin membuatnya bersemangat. Akan ada pembeli yang membeli semua barang jualannya, ucapnya dalam hati.
Matahari telah meninggi namun belum satu pun balon yang terjual. Ia berjalan dari sudut ke sudut mencari kesempatan sedikit saja. Menghampiri kerumunan orang – orang yang memenuhi taman di dekat cafĂ©. Di dekat kolam, sekumpulan anak TK sedang berlari mengejar gurunya riang. Ia melangkah mendekati anak – anak itu. Anak – anak selalu menyukai balon, pikirnya. Tanpa membuang waktu banyak ia langsung mengambil kesempatan tersebut dan mencoba menarik perhatian. Anak – anak itu masih terfokus pada permainan gurunya, Ibu tua itu tetap setia menunggu saat mereka menoleh dan membeli walau hanya satu balon saja. Menarik perhatian anak – anak tidak semudah yang dibayangkan. Kini cara terakhir menarik perhatian mereka adalah dengan cara melepas beberapa balon ke arah mereka. Dan Hup… seorang anak menoleh lugu dan mulai memainkan balonnya. Sang guru berusaha menarik perhatian anak itu kembali namun anak itu menangis meminta untuk dibelikan balon.  Ibu tua itu tersenyum simpul. Cara ini ternyata cukup berhasil. Beberapa anak lainnya turut meminta hal yang sama. Sang guru kewalahan membujuk permintaan anak muridnya dan akhirnya para ibu yang menemani anaknya mau tidak mau membelikan balon. Empat balon terjual sudah..
Suara adzan dzuhur menghentikan perburuannya. Ia berjalan ke arah mushola yang disediakan dan mulai membasuh air wudhu ke sekujur tubuhnya. Air yang mengalir, menyegarkannya kembali. Ayat – ayat suci mengalir lembut dalam tenangnya pengaduannya pada Sang Khalik. Tidak lupa ia panjatkan ribuan doa untuk kehidupannya dan anaknya kelak di masa depan. Doa penutup yang ia panjatkan adalah semoga Sang Khalik memudahkannya dalam mencari nafkah hari ini demi satu hal yang penting untuk anaknya. Sebuah kado kecil untuk Dika. Cukup sebuah agar anaknya bahagia. Perlahan wajahnya basah disertai sesenggukan yang tidak mampu lagi ia tahan.
            Ibu tua itu kembali berjalan menyusuri Kebun Raya Bogor. Ia kembali menawarkan barang jualannya kepada pengunjung yang baru datang menyesaki tempat ini. Tidak peduli pada teriknya matahari yang berada tepat di atas kepalanya, tidak peduli pada tatapan tidak suka dari beberapa pengunjung yang memandang dirinya rendah karena berjualan balon keliling. Hanya satu yang ia peduli, wajah memelas anaknya tadi pagi yang telah menusuk hatinya seharian ini. Anaknya tidak pernah menuntut apapun darinya selama ini. Dika cukup mengerti keadaan yang menimpa ibunya setelah ditinggal mati oleh almarhum ayahnya tiga tahun lalu. Keadaan yang sangat sulit.
            Dengan semangat, ia kembali meneriakan barang jualannya. “Balon..balon..siapa yang mau beli balon.. tiga ribu saja. Balon Mbak, Mas, Neng, buat anaknya Bu, Pak.. ayo beli balon. Adik mau beli balon?” teriaknya semangat. Tak sia – sia teriakannya yang lantang kali ini. Beberapa pengunjung tertarik membeli balon. Memang benar, do’a yang dipanjatkan dalam kekhusyukan selalu membawa berkah yang tak terkira. Saking sibuknya melayani permintaan pembeli, Ibu tua itu hingga tidak sempat mengelap peluh yang membasahi sekujur tubuhnya. Alhamdulillah, gumamnya pelan.
Waktu sudah menjelang petang. Sebentar lagi jam buka akan segera habis. Ibu tua itu merapikan barang jualannya yang sedikit berantakan. Ia melangkah menuju pintu keluar Kebun Raya Bogor. Tenggorokannya terasa kering sejak tadi siang. Dan air minum yang telah ia persiapkan dari rumah untuk mengirit pengeluaran telah lama habis. Tepat di samping sebelah kirinya, penjual es kelapa muda tampak sibuk melayani pembeli. Ia menelan ludah. Semua uang hasil kerja kerasnya hari ini hanya untuk kado Dika. Bagaimanapun ia tidak boleh memakai uang itu walau secangkir air minum.
Di pinggir jalan tidak jauh dari Kebun Raya Bogor, ia mulai menghitung semua hasil jerih payahnya hari ini. Seribu.. dua ribu.. tiga ribu.. dia mengelap peluh di keningnya. Keuntungan yang didapat hari ini lima ribu rupiah setelah dipotong biaya pembelian balon dan gas. Alhamdulillah... Ucapnya masih bersyukur dengan segala kekurangan yang ia dapati. Ia harus segera pulang sebelum tiba saatnya waktu menjelang tidur. Ia tidak ingin membiarkan Dika menunggunya terlalu lama. Ia berjalan berbeda dengan arah kepergiannya. Langkah kakinya ringan menuju toko buku yang berada di perempat jalan sekitar 5 km dari rumahnya. Melihat cahaya lampu yang masih menyala dari toko buku Senja yang akan ia datangi, menyiratkan sedikit kegembiraan dalam hatinya. Ia masih punya cukup waktu untuk memilih buku yang pantas untuk kado anaknya.
Puluhan buku terpampang rapi di dalam etalase toko. Hingga kebingungan melanda dirinya. Buku mana yang akan dibelinya. Ia kembali menghitung uang yang ada sebelum benar – benar memilih satu buah buku. Seribu.. dua ribu.. tiga ribu.. lima ribu. Kemudian, sebuah buku cerita di pojok ruangan menarik perhatiannya. Warna dan corak cover buku itu, sangat melambangkan sisi Dika, anaknya. Biru laut, ya Dika sangat menyukai warna biru laut. Warna yang menyiratkan ketenangan, setenang Dika yang selalu menunggu dengan sabar kado untuknya selama tiga tahun belakangan ini. Tangannya menggapai buku tersebut dan membaca sekilas isinya. Ia mengangguk tanda akan membeli buku itu. Ternyata harga yang tertera dalam sampul buku tidak sesuai dengan uang yang ia miliki. Huft, ia menghembuskan nafas lemah. Ia kembali harus mencari buku yang harganya sesuai dengan jumlah uangnya.
Setelah berkutat setengah jam, ia pun menemukan sebuah buku saku yang menceritakan tentang dongeng kancil. Dika pasti menyukai buku ini karena selain isi buku yang membuat geli pembaca, gambar di dalamnya menambah nilai plus buku itu. Terbayang di otaknya reaksi Dika kelak. Dika pasti akan sangat senang mendapatkan kado ini. Kado yang sudah tiga tahun diidamkannya. Ia tidak sabar lagi untuk segera pulang dan mendapati wajah riang anaknya.
Ia pun melangkah ke kasir untuk membayar belanjaan yang ia pilih. Sambil menunggu kasir mengetik belanjaan orang di depannya, sudut matanya menangkap seorang anak kecil yang terbaring lemah di depan toko. Melihat anak itu ia jadi teringat Dika. Ia berjalan mendekati anak kecil tersebut. Tubuhnya panas tinggi dan ia menggigil hebat. Tak ada seorang pun yang berniat menolong anak kecil itu. Semua bersikap acuh tak acuh pada kondisi yang terjadi pada anak itu. Muncullah rasa iba sebagai seorang ibu melihat seorang anak kecil menderita seperti itu. Ia tidak dapat membayangkan kalau Dika mengalami hal yang sama dengan anak ini. Ia tidak memiliki uang lagi kecuali uang yang akan ia bayarkan untuk membeli kado kecil untuk Dika. Ia menimang – nimang uang itu sambil sesekali memandangi anak kecil itu. Ia harus memilih, memakai uang itu untuk kado kecil Dika atau menolong anak kecil di depan toko…
Haruskah Dika kembali menunggu kado kecilnya tahun depan? Ibu tua itu menggeleng lemah. Atau haruskah ia bersikap acuh kepada anak yang terbaring menggigil ini di depannya? Ia tidak sanggup memilih. Batinnya sesak terhimpit pilihan yang sangat sulit.






                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                       

nyolong cerita dulu ahh....

Rangkaian kata menyusun lirik di tiap paragraf yang kutulis. Cerita ini mengenai sisi kehidupan yang sekiranya tak akan pernah aku temui tanpa kemurahan Tuhan yang menyayangi hambaNya. Terima kasih Tuhan kerena telah memberikan kesempatan bagiku tuk berjalan bersamanya. Merangkai cerita cinta yang sangat indah bagiku dan sekiranya cukup indah baginya begitu pula bagi teman teman kami.

***
Waktu terus berputar hingga akhirnya kutersadar bahwa harapanku tuk memilikinya sangatlah kecil. Aku sadar siapa aku. Aku sadar siapa orang yang saat itu berdiri tegak disampingku. Karena orang itulah aku menyadari bahwa tak ada kesempatan sekecil apapun tuk menghampirinya. Dan semakin sulit pula ketika orang yang sebelumnya aku kasihi dan aku sayangi meninggalkanku tuk sejenak, mungkin, atau untuk selamanya. Tak ada kabar. Tak ada sedikitpun lisan atau secarik tulisan yang ia tinggalkan untukku. Aku bingung. Hal apakah yang harus kuperbuat? Diam tak berdaya. Senar kutarik ketika layangku terbang tersapu angin sore.
Orang yang aku impikan telah memiliki perempuan. Perempuan yang ia puja. Benar kata temanku, “ Buad apa kau menanyakan lelaki itu.? Riyo telah beristri. Bodoh.!!”
Hatiku tiada henti memikirkannya. Walau beristri pula yang kupikirkan. Mendengar kabar mengenai sahabatnya, kegiatan yang ia ikuti dan bahkan organisasinya pun membuatku penasaran. Riyo, Riyo, Riyo, dirimu terus membayangiku di tiap langkah yang kutapaki di bumi ini. Semenjak kau menunjukkan pada khalayak bahwa bumi kita butuh tindakan bukan bualan, tiada henti kubertanya siapakah dirimu sesungguhnya. Tak pernah kudengar kabar tentangmu. Urutan nomor yang kuharap ada di daftar panggilanku pun tak ku temukan. Hingga sahabatmu, Ardi yang kebetulan memang ia adalah anak yang bisa dibilang easy going mulai menyapaku. Hingga Ardi pantas dipanggil sebagai teman. Hubungan pertemanan yang tak lama kemudian berubah menjadi cerita cinta dan tak lama pula berubah menjadi hal bodoh bagiku.
Benarkah Ardi menyayangiku sepenuh hati? Benarkah ia menyisihkan waktu disebagian harinya untuk terisi cerita mengenai aku? Sejenak aku mulai ragu. Mulai mempertanyakan siapakah aku dimata Ardi. Jika benar aku adalah orang yang ia kasihi, mengapa ia menanyakan isi hatiku terhadap sahabatnya? Ataukah jangan jangan Ardi tau apa yang sebenarnya kupendam jauh dalam hatiku?
Hari terus berjalan, waktu tak henti berputar. Orang yang ku kasihi meninggalkanku tanpa sepatah kata. Air mata yang seharusnya tak kujatuhkan kini mulai merambah wajahku hingga mengering dan kembali basah lagi.
Jauh perasaan yang indah itu kubuang.

***
Teman menghampiriku di sore yang indah akan senja matahari di barat langit. Mengajak berbagi suka cita dan bahkan duka tercurah di antaranya. Bersama lebih baik dari pada hanya seorang. Keceriaan, kesenangan, tawa akan kebahagiaan kami jalani tanpa henti. Menyosong hari dan membuatku tegar tanpa kehadiran cinta. Tak kusangka teman yang kuajak bercanda ini memiliki sebuah hubungan dengan seorang yang kukenal. Seorang yang sebenarnya tak mungkin aku miliki.
“Kau kenal dengan Riyo, Li?” kataku.
“Tentu, mengapa tidak. Dia sesosok yang sangat hebat menurutku. Mampu memimpin sebuah organisasi tanpa relasi.”
“Maksudmu?”
“Ardi cuti kuliah. Jelas sudah Riyo seorang diri di Artapala. “
Singkat informasi memberikan gambaran di ingatan ku apa yang terjadi pada seorang yang bekesan di hati. Seseorang yang membuaku terkagum atas cintanya terhadap bumi.
Samar samar kubertanya, “Apakah ia masih beristri, Li?”
“Yah, tak begitu kumengerti jalan pikirannya. Kurasa ia cukup bahagia dengan wanitanya. Bahagia dengan pertengkaran di tiap harinya pula.”
Apakah aku diijinkan menemuinya barang sekali saja, kataku dalam hati sembari berkata “Oh..” pada Lia. Kuberanikan menulis sebuah pesan pendek untuk Riyo melalui alat komunikasi yang sangat unik bagiku. Kutunggu beberapa waktu hingga alat komunikasi itu kembali berbunyi.
Ada apa Munk? Begitulah sebuah pesan yang kembali kuterima. Singkat tapi ada rasa senang dan sedikit tak percaya dengan apa yang kubaca saat itu. Bermula dari pesan pendek itulah banyak kegiatan kulalui agar bisa bertemu dengannya. Hanya memandang wajahnya sangatlah berkesan untukku.
Peringatan hari Bumi pada 22 April tahun ini, tepat satu tahun setelah awal pertemuanku dengannya. Sengaja kuikuti kegiatan pendakian gunung itu, agar kutemui wajah bijaknya. Oh, Tuhan terima kasih atas waktu yang Kau berikan saat itu. Ucapan syukur tak henti bergaung di dalam benakku. Banyak kenangan yang telah terkubur jauh kini timbul lagi di permukaan hariku. Rasa pahit dan manis bercampur menjadi satu. Indah tetapi menyedihkan.
“Itu lo, Munk istrinya Riyo”, kata Lia padaku di tengah kegiatan bersih gunung.
“Ha?” kataku terkejut. Mengapa sangat mirip sekali denganku, kataku dalam hati. Ah, jelas tak mungkin. Ini hanya pemikiranku sesaat saja. Kebetulan yang tak disengaja.
“Halo, Na, salam kenal. Aku Amunk”, sapaku pada seorang gadis cilik berjilbab. Satu kata yang tergambar dalam benakku adalah manis. Pantaslah Riyo menyukainya.
“Oh, Amunk ya. Riyo pernah bercerita tentangmu. Memang kita mirip.”
Hanya senyum kecut yang kuberikan pada gadis itu. Yah, kuharap tak sadar ia akan hal ini. Kucoba untuk mendekati gadis itu. Mencari cari hal yang seharusnya tak boleh kuketahui. Tetapi seiring langkah yang kami lalui bersama, ia mulai bercerita.
“Munk, lama sudah kupendam cerita ini. Tak seorang pun tau. Kini kubuka diri untukmu.”
Berdebar kencang jantungku saat mendengar ucapan itu keluar dari mulut Nana. “Sesungguhnya antara aku dan Riyo telah lama tak ada jalinan kasih seperti dulu. Begitu hampa dan tak bernada.”
“Apakah Riyo telah menyakiti hatimu, Na?
“Tidak juga. Hanya saja ada bayang seseorang kembali muncul di hatiku. Aku jatuh cinta lagi padanya”, katanya sambil tersipu malu dan dengan tanpa rasa berdosa. Sakit hatiku. Orang yang kudamba ternyata dikhianati oleh wanitanya. Aku disini menunggu dan berharap, tetapi ia yang dikasihi malah mencari yang lain. Riyo tetap saja mengulurkan tangan, memberikan pertolongan untuk Nana saat itu. Bagai tertusuk duri dadaku ini melihat apa yang sesungguhnya terjadi diantara mereka. Walau ada sedikit perasaan senang, tapi tidaklah pantas bagiku berbahagia di atas penderitaan orang lain.

***
Selang kegiatan berlalu, kukirim kembali sebuah pesan pendek untuk Riyo. Dan kami saling berkabar. Tak terasa tumbuhlah perasaan aneh antara Riyo dan aku. Sayang? Ah, bukan. Saling percaya? Ah, bukan juga. Kupikir perasaan ini adalah sesuatu yang tak lebih dari sekedar perasaan nyaman saat kami saling memberi. Ia mampu menjawab segala hal yang membuatku bertanya tanya sebelumnya. Begitu pula sebaliknya. Ia begitu mengerti dengan apa yang kuharap.
Tak butuh waktu yang lama bagi kami untuk tau apa yang kami rasa pada saat itu. Indah rasanya. Lebih indah dari apa yang kurasa sebelumnya. Sebuah cerita yang dulu penuh akan kenangan kemudian terhapus kini tergantikan dengan cerita bahagia bersamanya. Batinku terharu dengan segala hal yang kuimpikan sebelumnya. Setitik air mata bahagia jatuh menghiasi wajahku.

***
Kenangan demi kenangan kembali memenuhi isi ruang dan waktu hidupku. Kutorehkan tinta di secarik kertas untuk berbagi kebahagiaan dengan kalian. Bersabarlah akan segala sesuatu. Karena sesungguhnya Tuhan itu Maha Pengasih lagi Maha Pemberi.