Selasa, 30 April 2013

siapa kamu?

di mana senjaku yang dulu? sosok orang yang kupuja tiada bandingnya. sosok lelaki yang selalu tak ada dosa di mataku. dialah lelaki yang selalu mengunjungiku tiap bulannya. ke mana kau senja? 
itukah kamu? yang kulihat dalam bayangan hitam badai diujung pelita? 
kaukah itu? aku seperti tak lagi mengenalmu. kau kini mulai asik memaki. kau yang kini mulai tak sadar dengan santainya berkata buruk tentangku. picik, keganjenan, apa lagi senja?
itukah senja yang ku puja dulu? itukah sosok lelaki tanpa dosa yang dengan keberanian penuh kukenalkan pada ayah dan ibuku. itukah kamu, senja?
kehadiranmu yang kutukar dengan kehilangan persahabatanku. kehadiranmu yang kutukar dengan perhentian hobiku, kehadiranmu yang kutukar dengan perbedaan kepribadianku, kehadiranmu yang kini aku tak lagi melihat siapapun hanya kamu semata. dan kini kau balas semua dengan makian santaimu?
terima kasih senja. aku tak lagi mengenalmu.

Senin, 22 April 2013

inikah dendam yang kau simpan dalam dada?
meluncurkannya secara perlahan, diam tapi mematikan

Rabu, 17 April 2013

Peganganku hilang


Sampai kapan pun kamu tak akan pernah lupa akan luka yang telah kuberi. Hingga hari ini bahkan kamu menyiram minyak tanah ke tubuhku yang tak bertulang. Membakar habis semuanya. Aku kehilangan pegangan. Bau minyak terlalu menyengat. Kamu peduli entah tidak. Kini aku tak bisa membedakan. Aku kini bukan aku. Aku berubah menjadi wujud yang tak kuketahui. Aku bahkan tak ingat siapa aku. Tak ingat bagaimana dulu aku. Kau mengubah segalanya. Kau membuat ku tak yakin dengan diriku sendiri. Aku hilang kesadaran. kamu semakin senang. Entahlah itu tawaan atau penderitaan. Aku sudah bilang bukan aku tak lagi bisa membedakan.

Aku ingin hilang. Ingin lenyap dari dunia yang tak lagi kukenali. Aku mulai membenci hal-hal yang kusenangi dulu. Kamu mau tau semua demi siapa?
Hanya demi kamu semata. Ya kamu, lelaki yang menunggu pagi di terminal. Aku tau aku salah. Aku tahu aku hina. Aku tau aku tak sepantasnya menjadi milikmu. Tapi bukankah itu dulu? Di saat aku alpa pada kebaikanmu. Alpa pada pengorbananmu. Alpa pada kehadiranmu di setiap malam-malamku. Dan kamu sudah mengingatkanku cukup keras, tamparan kata-katamu meluluhkanku dalam sekejap. Semenjak itu aku berjanji menjadi lebih baik, menjadi yang kau inginkan. Aku ingin kepantasan itu.
Sayangnya semua itu hanya mimpi ku saja. Angan yang sulit kugapai. Terlalu muluk dan tak bisa tercapai.