Kamis, 06 Juni 2013

aku menunggumu di sini

terkadang kita harus membuat sebuah kesalahan agar kita mampu melangkah dengan lebih tegak
permasalahan kita hanya ada pada diri kita masing-masing
di mana kita harus bisa menerima kekurangan masing-masing
kita harus bisa mengerti satu sama lain
banyak pasangan di luar sana yang harus berjuang dengan permasalahan yang lebih kompleks
ada banyak pasangan yang gak direstui ortunya pacaran sama orang yang disayang
tiap kali ketemu dicariin kayak buron
sedangkan kita selalu menikmati masa-masa indah kita berdua

kita saling berpelukan, saling mengecup satu sama lain
tidak ada sedikitpun ketakutan
orang tua kmu merestui kita
orang tua aku juga gak masalah
tinggal kita yang bersabar untuk menunggu waktu kita saling bersama
waktu di mana aku memelukmu sepanjang malam
waktu di mana ku bukakan tirai untuk membiarkan cahaya matahari mengganggu pagimu
untuk mengecupmu lembut dan mengatakan “selamat pagi sayang”
waktu di mana kamu menemaniku berjuang hidup dan mati di ruang persalinan
melihat kehidupan baru yang akan kita besarkan bersama

melihat mereka tumbuh besar dan jadi hebat
aku bukan wanita hebat, aku hanya ingin menjadi istri dari dirimu yang hebat dan membesarkan anak-anak kita yang hebat
suatu saat nanti aku akan lelah dengan hidup ini dan terbaring dalam pelukanmu yang hangat
sekedar menikmati kasih sayangmu yang tak pernah henti hingga akhir hayat

we just need to learn understand each other
we just need much time
and if the time comes
we will be the best couple in the world
with you in my beside
with you wishing in your pray
with me in your arms to keep you
with us to support everytime and everywhere
i could be the one in your heart

Selasa, 04 Juni 2013

aku adalah aku, bukan kamu

Di sini aku ingin kembali menulis. Menulis kata-kata bahkan rangkaian kalimat panjang yang ada bukan untuk dipertanyakan kembali. Siapapun kamu yang membaca tulisan ini jangan pernah bertanya maksud dari kata yang ini, maksud kalimat yang itu. Semua itu hanyalah kata-kata yang memang ingin aku tuliskan apapun itu maksudnya.

Aku tahu, sudah lama sekali sulit untuk kata demi kata bisa tertulis dengan jelas di tempat ini. Bukan berarti aku tidak memiliki cerita untuk mengisi beranda ini. BUKAN. Hanya saja tanganku kaku tak mampu bergerak. Sudah berapa lama aku pergi dari kegiatan menulisku? Sudah berapa lama aku takut untuk melihat semua tulisan-tulisanku. Seperti mimpi buruk hobi yang kau dulu gemari menjadi sebuah momok yang menakutkan. Tapi kini dengan keteguhan hati serta mental yang bebal, kucoba untuk memulainya lagi. Aku akan mulai menulis segala hal yang ingin kutulis. Apapun itu. Teruntuk siapapun itu. Cerita dalam bentuk apapun itu.

Aku lelah sekali menyimpannya sendiri di dalam hati yang terus mengendap menjadi lumut tak berguna. Hingga lama kelamaan terkadang potongan demi potongan hilang begitu saja dari ingatan yang kupunya. Dan pada akhirnya aku menyesal. Aku tidak bisa lagi menceritakannya dengan lengkap. Ada saja potongan cerita yang hilang dan akhirnya kutambal sendiri dengan karangan kata-kata yang kupunya. Tidak lagi original.


Cerita apapun yang nantinya kutulis di sini, boleh saja kamu yang membacanya mendukungnya bahkan menentang sekalipun. Aku tidak peduli. Ini akun milikku. Terserah diriku menulis tentang apa. Kalau ada yang tidak suka silahkan menulis sendiri di akun pribadinya. Aku hanya ingin keluar dari lumut-lumut yang sudah mengendapkan kreatifitas menulisku. Aku ingin keluar. Aku ingin bebas. Karena aku adalah aku. Bukan kamu, dia atau pun orang yang sama sekali belum pernah kutemui. 

Rabu, 01 Mei 2013

tak akan pernah

aaarghhhhh, percuma aku menulis. toh ujung-ujungnya tak ada benar untukku. selalu aku yang disalahkan. apa kehadiranku di muka bumi ini juga salah? kepada siapa aku harus bersandar kalau tempat terakhirku kau rebut paksa. kau memang ingin melihatku menulis namun selalu saja ada tanya. aku tau aku pernah membuat luka di hatimu. tapi segini hebatkah dendam yang kau simpan dalam jiwamu? siramkan aku minyak dan bakar aku secara habis. jangan kau beri kembang kematian karena aku tak pantas itu. 
malam ini, kau hancurkan semua pertahananku. cukup sudah, aku terlalu letih mengobati luka yang kubuat. biarkan, biarkan itu terus menganga. toh kalaupun sembuh masih ada bekasnya.
jangan tanyakan tulisan ini di lain waktu karena aku takkan pernah menjawabnya.

Selasa, 30 April 2013

siapa kamu?

di mana senjaku yang dulu? sosok orang yang kupuja tiada bandingnya. sosok lelaki yang selalu tak ada dosa di mataku. dialah lelaki yang selalu mengunjungiku tiap bulannya. ke mana kau senja? 
itukah kamu? yang kulihat dalam bayangan hitam badai diujung pelita? 
kaukah itu? aku seperti tak lagi mengenalmu. kau kini mulai asik memaki. kau yang kini mulai tak sadar dengan santainya berkata buruk tentangku. picik, keganjenan, apa lagi senja?
itukah senja yang ku puja dulu? itukah sosok lelaki tanpa dosa yang dengan keberanian penuh kukenalkan pada ayah dan ibuku. itukah kamu, senja?
kehadiranmu yang kutukar dengan kehilangan persahabatanku. kehadiranmu yang kutukar dengan perhentian hobiku, kehadiranmu yang kutukar dengan perbedaan kepribadianku, kehadiranmu yang kini aku tak lagi melihat siapapun hanya kamu semata. dan kini kau balas semua dengan makian santaimu?
terima kasih senja. aku tak lagi mengenalmu.

Senin, 22 April 2013

inikah dendam yang kau simpan dalam dada?
meluncurkannya secara perlahan, diam tapi mematikan

Rabu, 17 April 2013

Peganganku hilang


Sampai kapan pun kamu tak akan pernah lupa akan luka yang telah kuberi. Hingga hari ini bahkan kamu menyiram minyak tanah ke tubuhku yang tak bertulang. Membakar habis semuanya. Aku kehilangan pegangan. Bau minyak terlalu menyengat. Kamu peduli entah tidak. Kini aku tak bisa membedakan. Aku kini bukan aku. Aku berubah menjadi wujud yang tak kuketahui. Aku bahkan tak ingat siapa aku. Tak ingat bagaimana dulu aku. Kau mengubah segalanya. Kau membuat ku tak yakin dengan diriku sendiri. Aku hilang kesadaran. kamu semakin senang. Entahlah itu tawaan atau penderitaan. Aku sudah bilang bukan aku tak lagi bisa membedakan.

Aku ingin hilang. Ingin lenyap dari dunia yang tak lagi kukenali. Aku mulai membenci hal-hal yang kusenangi dulu. Kamu mau tau semua demi siapa?
Hanya demi kamu semata. Ya kamu, lelaki yang menunggu pagi di terminal. Aku tau aku salah. Aku tahu aku hina. Aku tau aku tak sepantasnya menjadi milikmu. Tapi bukankah itu dulu? Di saat aku alpa pada kebaikanmu. Alpa pada pengorbananmu. Alpa pada kehadiranmu di setiap malam-malamku. Dan kamu sudah mengingatkanku cukup keras, tamparan kata-katamu meluluhkanku dalam sekejap. Semenjak itu aku berjanji menjadi lebih baik, menjadi yang kau inginkan. Aku ingin kepantasan itu.
Sayangnya semua itu hanya mimpi ku saja. Angan yang sulit kugapai. Terlalu muluk dan tak bisa tercapai. 

Rabu, 06 Maret 2013

bodohh


Menatap nilai saya yang keluar setelah perbaikan tak ada perubahan, saya kecewa sekali. Seperti ditimpuk garam di luka yang saya buat sendiri. Sakittt..
Sebodoh itukah saya dalam dunia pendidikan??
Menghitung jatah belajar saya yang hanya tinggal 1, 5 tahun lagi dengan jumlah nilai-nilai yang kurang memuaskan saya tak yakin bisa mendapatkan IPK minimal 3. Oh my God, what’s wrong with me??
Apakah akan kembali seperti dulu?? Terjatuh di atas keberhasilan kakak saya sendiri? Saya gak kuat kalo lagi – lagi harus kembali terulang. Menjadi yang terburuk setelah keberhasilan kakak sendiri. Saya ingin paling tidak sejajar dengan yang ia dapatkan. Tak perlulah muluk-muluk meminta menjadi di atasnya karena saya tahu persis saya tak pernah menjadi wanita seberuntung dirinya.
Ini sudah yang kesekian kalinya, tapi kenapa sakitnya masih tetap sama?  Bahkan lebih sakit dari biasanya. Lalu di manakah letak kelebihan yang saya miliki? Seperti apakah masa depan saya nanti??
Kalau dalam dunia pendidikan saja saya tak pernah sejajar dengannya. Saya kan hanya ingin sejajar tidak lebih kok.
Huftt, seginikah kemampuan yang saya miliki?? Ini hampir mencapai titik penghabisan kesabaran saya. Terlebih mengingat kejadian beberapa minggu yang lalu.
Beberapa minggu yang lalu, saya kedatangan seorang teman. Ia sedang berkunjung ke kota pendidikan saya. Di sela-sela kegiatan kami berdua, ia membuka nilai-nilai semesterannya. Agak sedikit lama karena loading lelet. Apa yang terjadi setelah loading selesai dan semua nilai terbuka semua. Ia menangis tak ada henti-hentinya. Apakah ia mendapatkan nilai E atau D? tidak, ia hanya mendapatkan nilai B.
Ya Tuhan, jika dengan mendapatkan nilai B saja ia sudah menangis seperti itu lalu bagaimana dengan nilai saya yang jauh dari nilai dirinya?? Mungkin matanya tak bisa membuka saking hebatnya tangisan yang ada. Seperti diejek goblok atau bodoh luar biasa dengan sikap yang ia lakukan. Ingin rasanya saya berteriak menyuruhnya diam dan berhenti menangis. Apa yang ia dapatkan masih lebih baik daripada yang aku miliki. Tapi aku tak sanggup mempermalukan diriku sendiri. Aku cukup diam dan menangis hebat di dalam hati. Semua yang aku dapatkan adalah hasil jerih payah usahaku sendiri. Seperti itulah kemampuanku, terlalu rendah.

Rabu, 27 Februari 2013

ketika amarahku tak terkendali


Sudah lama ketenangan menyelimuti hari-hariku. Memandang pagi dengan senyum terindah yang kupunya. Menggenggam hujan yang kubenci sekaligus kucinta. Berjalan di atas duri pun kunikmati. Itu semua karena ingin semua ketenangan itu terus berada dalam kabut hariku bersamamu. Tak kupedulikan jarak membentang hebat di antara kita. Dengan kekuatan yang kupunya, kutekan semua rindu yang terus menggebu dan menyayat jiwa ini. Tapi hari ini, semua terbalik dari biasanya.
Jangan membangunkan singa yang tertidur. Dan itu kau lakukan padaku. Hanya dua kata saja “suka bohong”, kata-kata yang sangat memuakan buatku. Aku benci sekali. Amarahku meledak di pagi yang tersenyum indah padaku. Tak ada lagi senyum terindahku untuk pagi ini. Aku benci hari ini. Aku benci pagi ini. Aku benci udara segar pagi ini. Semua seperti membakar diriku. Amarahku begitu hebat. Tak mampu kutahan.
Sudah berkali-kali kukatakan bahwa aku paling tidak suka dibilang pembohong. Dalam konteks apapun itu, becanda maupun serius. Karena aku berusaha sekali tak melakukannya hanya kepadamu. Tak mengapa kau katakan aku nakal, aku sulit dinasihati. Yang terpenting, aku berusaha jujur bahwa seperti inilah aku apa adanya. Tapi dengan gurauan khasmu, dengan sangat lantang dan lepas kau katakan dua kata –kata yang paling kubenci itu.
Seketika kurasakan matahari jauh lebih sejuk daripada jiwaku. Jiwaku terbakar oleh amarahku sendiri. Amarah yang tak mampu kutahan.
Aku benci tak dipercaya karena akan terlalu sia-sia jika kuberkata jujur namun kau mengira yang lainnya. Perlukah aku berubah menjadi pembohong speerti apa yang kau kira??
Kalau itu yang kau mau, akan kulakukan mulai saat ini juga !

Jumat, 08 Februari 2013

kenapa lagi sih??

hanya pecundang yang jatuh di lubang yang sama untuk kedua kalinya. dan itu adalah aku. bodohnya, aku melakukan hal yang sama yang dulu pernah kulakukan kala masa training berlangsung. memutarkan track yang salah. well sekarang aku pun melakukan kesalahan yang sama. pecundang banget !!
emang sih kesalahan kali ini tidak seburuk dulu tapi dengan status ku sekarang yang sudah resmi menjadi penyiar semestinya kesalahan sepele seperti ini tidak pernah terjadi. dan sekarang aku melakukan kesalahan itu untuk yang kedua kalinya. bodoh..

Rabu, 09 Januari 2013

Karena Aku


Di pekatnya malam ku termangu
Menatap semburat cahaya yang mengabu di ujung pelita
Membuyarkan pandangan tuk berjalan

Aku seperti tersesat dalam ketidakberdayaan
Tak berdaya menatap langit yang semakin menghitam
Tak berdaya berjalan di antara kegelapan
Dan kini aku tersungkur

Menyadari betapa ini semua salahku
Aku yang sulit menerima penjelasan
Aku yang sulit berbicara apa yang kurasakan
Hingga diam mengunci rongga tenggorokanku
Dan badai memporakporandakan semua

Rasa sakit, kecewa hingga air mata yang mengalir dalam panasnya suhu tubuh

Semua ini salahku
Semua ini karena ku
Aku yang tak ingin dibohongi
Aku yang tak ingin adanya pengkhianatan
Aku yang takut kehilangan
Tapi malah aku yang merusak nada kehidupan yang berjalan harmonis
Maafkan aku

Selasa, 08 Januari 2013

Trust Me


Jangan khawatir sayang. Aku di sini baik-baik saja dan pertapaanku tidak akan membuat hubungan kita berubah. Masih akan sama seperti sebelum malam itu. Aku hanya ingin sendiri. Hanya ingin berpikir dengan kepala dingin tanpa menyalahkan siapa pun.
Tak ada yang salah dalam hubungan kita. Aku hanya ingin mencerna kata-katamu dengan bijak. Bukankah memang tidak ada yang mengkhianati satu sama lain? Itu hanya permasalahan masa lalu bukan? Aku percaya kamu seutuhnya. Kamu tidak akan menyakitiku.
Enggak munafik. Aku cemburu sama wanita itu. Cemburu sama pesan singkat kamu yang intens. Hemm.. mungkin benar kamu lupa menghentikan pesan yang kamu sudah rancang secara otomatis dikirim tiap malam pada saat itu. Tapi bukankah semestinya kamu menghindari hal-hal yang seperti ini sebelum hubungan ini resmi. Kamu seperti tidak ada respectnya sama sekali sama aku. Huft
Ya, mungkin benar kamu lupa. Manusia tempat salah dan lupa bukan? Aku hanya.. Huft, maafkan aku..
Aku juga wanita biasa yang tak bisa menerima kehadiran orang lain di  dalam hubungan kita. Aku begitu percaya denganmu. Semua tanggapan miring tentang kamu, tentang hubungan jarak jauh kita, selalu aku tepis. Lalu bagaimana cara aku menepisnya kalau ini yang terjadi. Plis, jangan pernah merusak kepercayaanku
Stoppp it Dilaaaaa...
Bukankah aku tidak ingin menyalahkan siapapun di awal tulisan ini. Maaf aku tidak fokus.
Aku amat mencintaimu, sayang. Itu kenapa aku ingin bertapa sehari saja untuk menenangkan emosi yang membara ini. Aku takut kalau berbicara malah salah. Plis, hargai keputusanku. Jaga kesehatanmu baik-baik ya. Aku enggak mau denger kabar buruk karena ini. Miss you, honey

Jumat, 04 Januari 2013

tak perlu judul


Baru 47 hari sayang kalau kamu ingin menamatkan hubungan kita..
Belum terlambat sungguh meski takkan pernah kutemukan obat jika itu terjadi..
Tapi itu lebih baik daripada kita tersiksa dengan sugesti-sugesti kita sendiri
Tak mudah menjalin hubungan dengan jarak membentang luas di antara kita
Selalu ada saja kekhawatiran, curiga berlebihan bahkan rusaknya kepercayaan dengan imajinasi kita sendiri
Masa lalu kamu?? Omongan orang tentang hubungan jarak jauh?? Semuanya persetan !
Aku benci sekali. Saking bencinya aku hanya bisa memendam amarah kalau kau terus mencurigai aku
Mungkin hanya becandaanmu saja, tapi buatku becandaanmu itu wujud beberapa persen dari hati terdalammu
Bukan cuma kamu yang tersiksa dengan keadaan ini, Aku!
Aku lebih tersiksa sayang asal kau tahu
Aku harus mencoba sabar berkali-kali menutupi keraguan kamu kala kita berpisah
Aku harus bersabar menunggu kamu selesai bekerja untuk sekedar berkabar
Aku harus mengelus dada kala jaringan seluler menamatkan perbincangan kita
Kamu itu kekasih pertama aku
Aku ingin kayak wanita lainnya di saat kekasih pertama hadir dalam hidupnya
Setiap hari melihat kamu, dielus-elus kepalanya, makan bareng atau sekedar berbincang empat mata
Hanya kamu dan aku
Aku hanya ingin kamu berpikir ulang mengenai hubungan kita
Jangan berpikir buruk dulu !
Bukan karena ada orang lain di antara kita
Sungguh hanya kamu dan aku
Bukankah dari awal aku sudah bilang sanggup menjalaninya bersama kamu meski jarak menjadi musuh utama kita?
Aku hanya mulai lelah menghadapi trauma kamu
Terserah kamu mau bilang aku jahat atau apalah
Aku paling enggak bisa dicurigai sayang
Pernah dulu aku dicurigai seseorang yg padahal aku tak pernah melakukannya
Hingga akhirnya aku bosan dan melakukan apa yang dicurigai itu
Aku gak mau itu terjadi pada hubungan kita sayang
Aku gak mau menyakiti kamu

Rabu, 02 Januari 2013

buat kamu calon imamku kelak


Ternyata sedikit banyak pembicaraan mengenai jodoh itu mengusikku..
Entahlah siapa yang Allah kasih untuk jodohku kelak. Entah dia yang sudah terlihat di pelupuk mata atau bahkan orang yang sama sekali belum pernah dipertemukan denganku.
Yang pasti pernikahan itu akan berlangsung di kala semua restu dari keluarga kudapatkan serta kelulusan kuliahku.
Aku mungkin tidak meminta banyak dari kamu wahai calon suamiku kelak, siapapun itu, bagaimanapun wujudmu atau apapun pekerjaanmu. Yang ku pinta hanyalah,
Duhai calon Suamiku…

Tahukah engkau anugerah yang akan engkau terima dari Allah di akhirat kelak? Tahukah engkau pula balasan yang akan dianugerahkan kepada suami-suami yang berlaku baik terhadap istri-istri mereka? Renungkanlah bahwa, “Mereka yang berlaku adil, kelak di hari kiamat akan bertahta di singgasana yang terbuat dari cahaya. Mereka adalah orang yang berlaku adil ketika menghukum, dan adil terhadap istri-istri mereka serta orang-orang yang menjadi tanggungjawabnya.” [HR Muslim]. Kudoakan bahwa engkaulah yang kelak salah satu yang menempati singgasana tersebut, dan aku adalah permaisuri di istanamu.
Duhai calon suamiku...
Bila nanti kita bangun rumah tangga dan di sana kulakukan sebuah kesalahan. Aku mohon engkau mampu menasehatiku dengan baik dan mengajarkanku pada kebaikan.
Sadarkah engkau bahwa tiada manusia di dunia ini yang sempurna segalanya? Bukankah engkau tahu bahwa hanyalah Allah yang Maha Sempurna. Tidaklah sepatutnya bila kau hanya menghitung-hitung kekurangan pasangan hidupmu, sedangkan engkau sendiri tak pernah sekalipun menghitung kekurangan dan kesalahanmu. Janganlah engkau mencari-cari selalu kesalahanku, padahal aku telah berusaha taat kepadamu.

Saat diriku rela pergi bersama dirimu, kutinggalkan orangtua dan sanak saudaraku, ku ingin engkaulah yang mengisi kekosongan hatiku. Naungilah diriku dengan kasih sayang, dan senyuman darimu. Ku ingat pula saat aku ragu memilih siapa pendampingku, ketakwaan yang terlihat dalam keseharianmu-lah yang mempesona diriku.

Bukankah sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, Ali bin Abi Tholib saat ditanya oleh seseorang, “Sesungguhnya aku mempunyai seorang anak perempuan, dengan siapakah sepatutnya aku nikahkan dia?” Ali r.a. pun menjawab, “Kawinkanlah dia dengan lelaki yang bertakwa kepada Allah, sebab jika laki-laki itu mencintainya maka dia akan memuliakannya, dan jika ia tidak menyukainya maka dia tidak akan menzaliminya.” Ku harap engkaulah laki-laki itu, duhai suamiku.
Engkau yang nanti menjadi teman hidupku. Sepatutnya engaku yang imannya lebih baik dariku. Agar aku bisa kau tuntun menuju syurga. Agar nanti kita memiliki anak-anak yang soleh dan solehah berkat kemuliaanmu.
Siapapun calon imamku kelak. Aku menunggumu di sini. Di tempat ku berdiri mengharapkan jodoh yang terbaik akhlak serta perilakunya.