Jumat, 04 Januari 2013

tak perlu judul


Baru 47 hari sayang kalau kamu ingin menamatkan hubungan kita..
Belum terlambat sungguh meski takkan pernah kutemukan obat jika itu terjadi..
Tapi itu lebih baik daripada kita tersiksa dengan sugesti-sugesti kita sendiri
Tak mudah menjalin hubungan dengan jarak membentang luas di antara kita
Selalu ada saja kekhawatiran, curiga berlebihan bahkan rusaknya kepercayaan dengan imajinasi kita sendiri
Masa lalu kamu?? Omongan orang tentang hubungan jarak jauh?? Semuanya persetan !
Aku benci sekali. Saking bencinya aku hanya bisa memendam amarah kalau kau terus mencurigai aku
Mungkin hanya becandaanmu saja, tapi buatku becandaanmu itu wujud beberapa persen dari hati terdalammu
Bukan cuma kamu yang tersiksa dengan keadaan ini, Aku!
Aku lebih tersiksa sayang asal kau tahu
Aku harus mencoba sabar berkali-kali menutupi keraguan kamu kala kita berpisah
Aku harus bersabar menunggu kamu selesai bekerja untuk sekedar berkabar
Aku harus mengelus dada kala jaringan seluler menamatkan perbincangan kita
Kamu itu kekasih pertama aku
Aku ingin kayak wanita lainnya di saat kekasih pertama hadir dalam hidupnya
Setiap hari melihat kamu, dielus-elus kepalanya, makan bareng atau sekedar berbincang empat mata
Hanya kamu dan aku
Aku hanya ingin kamu berpikir ulang mengenai hubungan kita
Jangan berpikir buruk dulu !
Bukan karena ada orang lain di antara kita
Sungguh hanya kamu dan aku
Bukankah dari awal aku sudah bilang sanggup menjalaninya bersama kamu meski jarak menjadi musuh utama kita?
Aku hanya mulai lelah menghadapi trauma kamu
Terserah kamu mau bilang aku jahat atau apalah
Aku paling enggak bisa dicurigai sayang
Pernah dulu aku dicurigai seseorang yg padahal aku tak pernah melakukannya
Hingga akhirnya aku bosan dan melakukan apa yang dicurigai itu
Aku gak mau itu terjadi pada hubungan kita sayang
Aku gak mau menyakiti kamu

Rabu, 02 Januari 2013

buat kamu calon imamku kelak


Ternyata sedikit banyak pembicaraan mengenai jodoh itu mengusikku..
Entahlah siapa yang Allah kasih untuk jodohku kelak. Entah dia yang sudah terlihat di pelupuk mata atau bahkan orang yang sama sekali belum pernah dipertemukan denganku.
Yang pasti pernikahan itu akan berlangsung di kala semua restu dari keluarga kudapatkan serta kelulusan kuliahku.
Aku mungkin tidak meminta banyak dari kamu wahai calon suamiku kelak, siapapun itu, bagaimanapun wujudmu atau apapun pekerjaanmu. Yang ku pinta hanyalah,
Duhai calon Suamiku…

Tahukah engkau anugerah yang akan engkau terima dari Allah di akhirat kelak? Tahukah engkau pula balasan yang akan dianugerahkan kepada suami-suami yang berlaku baik terhadap istri-istri mereka? Renungkanlah bahwa, “Mereka yang berlaku adil, kelak di hari kiamat akan bertahta di singgasana yang terbuat dari cahaya. Mereka adalah orang yang berlaku adil ketika menghukum, dan adil terhadap istri-istri mereka serta orang-orang yang menjadi tanggungjawabnya.” [HR Muslim]. Kudoakan bahwa engkaulah yang kelak salah satu yang menempati singgasana tersebut, dan aku adalah permaisuri di istanamu.
Duhai calon suamiku...
Bila nanti kita bangun rumah tangga dan di sana kulakukan sebuah kesalahan. Aku mohon engkau mampu menasehatiku dengan baik dan mengajarkanku pada kebaikan.
Sadarkah engkau bahwa tiada manusia di dunia ini yang sempurna segalanya? Bukankah engkau tahu bahwa hanyalah Allah yang Maha Sempurna. Tidaklah sepatutnya bila kau hanya menghitung-hitung kekurangan pasangan hidupmu, sedangkan engkau sendiri tak pernah sekalipun menghitung kekurangan dan kesalahanmu. Janganlah engkau mencari-cari selalu kesalahanku, padahal aku telah berusaha taat kepadamu.

Saat diriku rela pergi bersama dirimu, kutinggalkan orangtua dan sanak saudaraku, ku ingin engkaulah yang mengisi kekosongan hatiku. Naungilah diriku dengan kasih sayang, dan senyuman darimu. Ku ingat pula saat aku ragu memilih siapa pendampingku, ketakwaan yang terlihat dalam keseharianmu-lah yang mempesona diriku.

Bukankah sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, Ali bin Abi Tholib saat ditanya oleh seseorang, “Sesungguhnya aku mempunyai seorang anak perempuan, dengan siapakah sepatutnya aku nikahkan dia?” Ali r.a. pun menjawab, “Kawinkanlah dia dengan lelaki yang bertakwa kepada Allah, sebab jika laki-laki itu mencintainya maka dia akan memuliakannya, dan jika ia tidak menyukainya maka dia tidak akan menzaliminya.” Ku harap engkaulah laki-laki itu, duhai suamiku.
Engkau yang nanti menjadi teman hidupku. Sepatutnya engaku yang imannya lebih baik dariku. Agar aku bisa kau tuntun menuju syurga. Agar nanti kita memiliki anak-anak yang soleh dan solehah berkat kemuliaanmu.
Siapapun calon imamku kelak. Aku menunggumu di sini. Di tempat ku berdiri mengharapkan jodoh yang terbaik akhlak serta perilakunya.

Minggu, 30 Desember 2012

huft

capek ya ternyata
capek banget mungkin

susah jadi orang sabar mulu
aku coba terus berusaha

well, terserah mau gimana jadinya 

Jumat, 28 Desember 2012

Hei Kamu...


Hei kamu...
Aku cinta banget sama hari selasa
Tapi kenapa kabar tentang kamu kudapatkan di hari selasa saat senja
Saat-saat paling menenangkan buat hidupku
Seketika tubuhku panas mendengar kabar itu

Hei kamu...
Teruntuk tanah yang masih basah akan tangisan
Sampai hari ketiga kepergianmu pun tangisku tak pernah berhenti
Rasanya percaya pun tidak meski kutahu bunga bertaburan segar di tanahmu

Hei kamu...
Teruntuk nisan yang belum sempat kusentuh
Namamu tergores indah di situ
Kenapa kepergianmu begitu cepat
Meski kutahu kamu lebih baik pergi bersama para bidadari daripada menahan segala komplikasi

Hei kamu...
Orang yang pernah kutitipkan cinta meski sebentar dan aku menyerah
Menyerah karena aku memang tak pernah pantas untukmu
Bidadari syurga yang pantas mendapatkannya

Hei kamu...
Orang yang kusayang sama seperti sahabatku yang lainnya
Rasanya tak sanggup kehilangan kamu
Biarlah kita tak pernah sama-sama tahu perasaan kita masing-masing
Biarlah kita saling menyayangi karena persahabatan
Biarlah semua itu
Asalkan kamu tak pergi secepat ini, aarggghhh

Hei kamu...
Ya cuma kamu
Yang bikin aku nyesek berhari-hari
Yang bikin aku malu di depan teman-temanku karena kamu menolak cintaku
Tapi kamu yang bisa bikin aku ikhlas bahwa gak semua cinta terbalaskan dengan baik
Tapi ya cuma kamu yang bikin aku bisa lebih dekat tanpa cintaku yang dulu kepadamu

Selamat jalan sahabatku...
Sampai berjumpa di kehidupan yang selanjutnya
Tuhan tahu kebaikanmu
Meski maki-makimu selalu menarik uratku
Meski cuekmu bikin aku mau lempar batu
Tapi kebaikanmu menutupi semuanya

Aku bahkan tak ingat kapan kesalku ada
Yang kuingat hanya kebaikanmu mempertemukanku dengan cintaku kini
Yang kuingat karena kamu yang mempertemukanku dengan cita-citaku sebagai penyiar
Yang kuingat cuma kamu yang memudahkan semua perjalanan travelingku

Senyummu, candamu bahkan makimu sekalipun tak akan aku lupakan sampe kapanpun

Aku janji

Senin, 17 Desember 2012

maaf jika aku takabur

jarakkkk..
aku ingin memiliki pintu kemana saja doraemon
agar jika rinduku memuncak
hanya perlu memutar gagang pintu, kita kan bertemu

aku ingin memiliki kloningan
agar jika kesibukanku menghambat pertemuan kita
masih ada solusi yang bisa menyelesaikan
kloninganku beraktifitas, kita bersama

aku ingin memiliki senter pengecil
agar jika jarak semakin menyesakka dada
dengan mudahnya kuperkecil jarak di antara kita dan bertemulah kita

jarak ya???..
huft,
sepertinya aku mulai membenci ''jarak"
maaf jika aku terlalu takabur mengatakan aku sanggup
aku hanya sedang berusaha sanggup

Kamis, 06 Desember 2012

Terima Kasih Telah Mengajarkanku Kesabaran


Ketika rasa ini mendesakku untuk bertahan
Aku sadar
Banyak hal yang akan aku hadapi demi mempertahankannya
Meski kulihat kamu membuatku menggantungkan harapan tinggi
Meski aku tak tahu apakah harapanku penuh asa
Yang kutahu aku hanya butuh bersabar
Biarkan waktu yang menjawabnya

Hari demi hari berlalu
Kamu mengajarkanku arti kesabaran
Kala kutahu kamu pernah terluka
Luka yang ada takkan pernah terhapus, bukan?
Bekasnya jelas terlihat di raut wajahmu
Dan aku mesti lebih bersabar akan harapanku bersamamu

Kini ketika Tuhan memberikan kesempatan membuka hatimu
Tak pernah sabarku menghilang
Jarak membentang luas di antara kita
Tapi bukankah kedekatan hati kita jauh lebih penting?
Huft, aku harus lebih lebih sabar
Sabar menekan rindu yang terus mendesak keluar
Sabar menahan cinta yang tak bisa tersalurkan
Hanya lewat doa kupanjatkan

Sabar ku berhenti sampai di situ?
Tidak !

Luka itu masih segar dalam ingatanmu
Dan kamu (cukup) meragu pada hatiku
Pada aku, pada masa laluku dan pada masa depan kita

Aku harus dan wajib terus bersabar
Demi diriku, demi hubungan kita
Terlebih demi kamu agar yakin
Karena aku tak pernah setengah hati menjalankan sesuatu yang kucintai

Bersamamu, aku menjadi lebih mengerti arti sabar
Terima kasih sayang

Senin, 03 Desember 2012

Menghitung Waktu


Aku terus menghitung waktu. Waktu kebersamaan kita, waktu perpisahan kita dan waktu saat kita bertemu kembali. Sehari, dua hari, seminggu, dua minggu. Masih lama sekali untuk menjalani waktu dua minggu berikutnya. Rindu di pelupuk mata begitu memberatkan. Bahkan teknologi canggih sekalipun takkan mampu mengurangi rindu yang terus menggerogoti tubuhku yang semakin kuyu. 

Seakan tertatih menunggu waktu pertemuan kita. Kita coba mengurangi rasa rindu dengan saling berbicara dan memandang dalam layar kecilku. Namun rasanya semua takkan mampu menyalurkan rinduku yang semakin menggebu. Tak ada sentuhan lembutmu dan sialnya satu kata mampu kubenci saat itu. ‘sinyal’