Sabtu, 22 September 2012

Ketidakpastian Malam



hati sungguh tak bisa menahan lagi
selalu resah menghantui
menjadikan kelam di setiap malam
(Embun - Rindu) 


Aku rindu petang

Aku rindu warna jingga

Hingga kulecutkan seluruh pakaian demi menantimu pulang

Di ketidakpastian malam

R I N D U H U J A N



tak ada waktu tuk menjelaskan
tak sangka ini kan datang
tiap liku berbagi hidup
sejenak melepas lelah
kau tinggalkan diriku
(Hujan Turun - Sheila On 7) 
Di sini aku berdiri bersama hujan di ujung mataku
Ketika kulihat dia memilih yang lain
Bisa saja aku membenci hujan
Yang ramai-ramai membuat badanku kuyup
Sekuyup hatiku

Sekuat hati kukayuh laju sepeda meninggalkan masa kelam
Menata hati yang porak poranda
Tak mudah memang dan butuh waktu setengah hidup
Hingga kutemukan senja di ujung ketinggian

Bersama bintang dan bulan bersisian
Bersama hujan yang membuatnya begitu mesra
Satu jaket berdua
Aku merasakan kehangatan yang lama hilang
Bersama hujan yang kini kucintai

Rinduku meradang pada senja yang tak kunjung datang
Pada angin yang semakin lama pelit berbagi
Dan awan yang semakin pergi
Engkau, Matahari pagi dan siang, berbagilah tempat pada kesejukan sore hari
Berbagilah pada hujan yang lama menghilang

Selalu ada cerita
Tersimpan dihatiku
Tentang kau dan hujan
Tentang cinta kita
Yang mengalir seperti air  (Utopia - Hujan)

Sabtu, 08 September 2012

kebersamaan kita



Senja, kita selalu menghabiskan waktu 7 hari dalam seminggu, 30 hari dalam sebulan dan 12 bulan dalam setahun. Kita juga menghabiskan waktu 60 detik dalam semenit dan 60 menit dalam sejam. 24 jam dalam sehari. Tapi pertemuan kita??

Kita hanya menghabiskan waktu 1 jam, 4 jam, dan 12 jam saja. Buat aku semua sempurna. Sempurna kedekatannya, sempurna momennya dan sempurna waktunya. Aku tak perlu menghabiskan waktu 24 jam atau bahkan 7 hari selalu bersamamu. Menggamit tanganmu dan selalu bersandar dalam tubuh bidangmu. Aku hanya butuh waktu sepotong. Dan biarkan sisanya aku simpan untuk rasa rindu yang nantinya akan aku tumpahkan ketika bertemu kembali denganmu.

Senja, ada yang bilang setiap momen harus selalu diabadikan dalam bidikan lensa kamera. Tidak boleh terlewatkan sedikit pun momen. Agar nantinya, semua momen itu bisa dilihat kembali di masa depan dan dikenang. Buatku kata-kata itu benar. Aku juga suka mengabadikan momen apapun itu. Baik bahagis, sedih ataupun kecewa. 

Tapi kenapa ya, aku hanya ingin lensa mataku yang merekam semua momen kebersamaan kita. Semua gerakan tanganmu, lirikan matamu dan renyahnya tawamu kala menggodaku. Aku hanya ingin aku saja yang tahu. Tidak boleh ada yang lain. Mereka hanya boleh tahu dari ceritaku. Sepenggal ceritaku saja. Karena sisanya biar kusimpan sendiri.

Selasa, 03 Juli 2012

Kelabu, Itu Kamu


 

Kelabu,

Langitku kini begitu..

Tak ada yang baik, tak ada yang buruk, semua kelabu..

Bahkan aku tak tahu apakah aktivitasku ini menyenangkan atau tidak..

Menyakitkan atau tidak, semua samar..

Sekejap baik-baik saja lalu buruk seketika..

Tak bisa ditebak..

 

Malam menjemputku dalam diam..

Dingin membekukan indera perasaku..

Kelabu malam ini membutakan mata hingga hatiku..

 

Aku lupa kapan terakhir kali berada di posisi seperti ini..

Di tengah badai yang kapan saja bisa menelanku bulat-bulat..

Di tengah arus yang menghanyutkan..

 

Let it flow..

Salahkah pengertianku akan untaian kata itu?..

Hingga kini aku diam tak berdaya dibawa arus seperti ini..

Menikmatinya dan disakitinya dalam satu waktu..

Minggu, 01 Juli 2012

benarkah kata let it flow?

 

Belakangan ini kata entahlah terlalu banyak melingkupi kehidupanku. Entah lah entah lah. Hingga aku lelah, apa benar hatiku berkata entahlah. Hingga aku buta apa sebenarnya kata “entahlah”. Hingga aku lupa apa benar hatiku yang berkata entahlah atau bukan.

Semuanya begitu melenakan. Terlupa. Atau bahkan sengaja kulupa.

Kini aku berperang dalam hati. Apa benar yang kulakukan. Apa benar yang dia katakan. Apa aku tidak sedang berjalan dalam api yang terus membakar diri. Entahlah.

Dia memanjakan aku meladeni. Dia memberi perhatian aku mengiyakan. Dia mendoakan aku mengamini. Lalu bagaimana nasib hati di ujung sana. Hati yang kusimpan hanya untuk kekasih hatiku seorang. Hati yang dia simpan hanya untuk wanitanya.

Aku tak tahu sungguh. Let it flow. Aku hanya mengikuti alur. Deras sekali bahkan dahan pohon kokoh pun tak sanggup menopang tubuhku. Aku terhempas dalam permainan.

Bodohnya, aku menikmati semua arus.